PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) meresmikan modernisasi rumah bibit tanaman energi berbasis digital di Kalurahan Gombang, Gunungkidul, Kamis (7/5), dengan kapasitas hingga 25.000 bibit. Langkah ini merupakan bagian dari program Electrifying Agriculture untuk mengamankan pasokan biomassa guna menekan emisi di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Inovasi tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali lahan kritis sekaligus meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat perdesaan secara berkelanjutan.
Upaya transisi energi nasional kini merambah hingga ke pelosok desa melalui kolaborasi antara PLN EPI dan PT PLN (Persero). Di Kalurahan Gombang, Kabupaten Gunungkidul, sebuah rumah bibit tanaman energi bertransformasi menjadi fasilitas modern yang dikendalikan melalui ujung jari. Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menyatakan bahwa program ini dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pembibitan berbasis masyarakat.
Langkah ini menjadi krusial mengingat PLN tengah gencar mengimplementasikan skema cofiring atau pencampuran biomassa dengan batu bara pada PLTU. Dengan memanfaatkan energi listrik dan teknologi digital, proses produksi bibit diklaim menjadi lebih efisien, produktif, dan terukur. Hal ini sekaligus menjadi jawaban atas tantangan pemenuhan bahan baku biomassa yang stabil di masa depan.
Salah satu terobosan utama dalam proyek ini adalah penerapan sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Melalui teknologi tersebut, para petani tidak lagi harus melakukan penyiraman manual yang menguras tenaga. Proses pemeliharaan bibit kini dilakukan secara terjadwal dan dapat dikendalikan langsung melalui perangkat ponsel pintar milik anggota kelompok tani.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulya, Satiman, mengakui efisiensi ini memberikan dampak psikologis dan ekonomi yang besar bagi anggotanya. "Dengan adanya sistem listrik dan digital ini, pengelolaan rumah bibit menjadi jauh lebih mudah dan efisien. Kami juga lebih yakin dalam menghasilkan bibit yang berkualitas, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi anggota kelompok," ujar Satiman.
Kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi lahan kering dan kawasan kritis menjadikan inovasi ini sangat relevan. Panewu Kapanewon Ponjong, Asih Tri Wahyuni, menekankan bahwa pendampingan yang diberikan tidak hanya bersifat seremonial. Menurutnya, masyarakat perlahan mulai mandiri dalam mengelola rumah bibit modern ini untuk memulihkan produktivitas lahan mereka.
Rumah bibit di Gombang difokuskan pada pengembangan tanaman energi seperti indigofera dan kaliandra. Kedua jenis tanaman ini merupakan primadona untuk bahan baku biomassa karena memiliki nilai kalor yang baik. PLN EPI memproyeksikan tanaman ini akan menjadi pilar utama dalam menjaga keberlanjutan energi nasional melalui pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil murni.
Manager PLN UP3 Jogja dan Wonosari, Agung Pratomo, menilai model kolaborasi berbasis masyarakat ini adalah kunci keberlanjutan energi. "Tanaman energi ini nantinya digunakan sebagai campuran bahan bakar batubara di PLTU melalui cofiring. Jadi masyarakat ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan energi," jelas Agung. Skema ini menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan antara penyedia energi dan warga lokal.
Manfaat program ini ternyata meluas hingga ke sektor kreatif. Warga desa mulai memanfaatkan daun indigofera sebagai bahan pewarna alami untuk produk eco print. Diversifikasi ini memberikan nilai tambah ekonomi selain dari penjualan bibit atau hasil panen tanaman energi ke PLN. Hal ini membuktikan bahwa program lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kerakyatan.
Secara korporasi, inisiatif ini mempertegas komitmen Environmental, Social, and Governance (ESG) PLN EPI. Fokusnya tidak hanya pada pengurangan emisi gas rumah kaca, tetapi juga pada pemberdayaan sosial dan tata kelola berbasis teknologi. Melalui rumah bibit digital di Gombang, PLN EPI berupaya membuktikan bahwa dari level desa, ketahanan energi nasional dapat diperkuat sambil menjaga kelestarian lingkungan.
Program yang sudah berjalan sejak 2023 ini diharapkan menjadi percontohan bagi wilayah lain di Indonesia. Dengan kapasitas 25.000 bibit, fasilitas ini menjadi mesin penggerak hijau yang menyatukan teknologi digital, kelistrikan, dan kearifan lokal dalam satu ekosistem pertanian terpadu.