APNI-PNIA Bangun Koridor Nikel, Kuasai 73 Persen Produksi Dunia

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 18:14:02 WIB
Penandatanganan MoU Koridor Nikel Indonesia-Filipina di Cebu memperkuat kerja sama industri nikel kedua negara.

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) resmi menyepakati pembentukan Indonesia-Philippines Nickel Corridor di Cebu, Filipina, Sabtu (9/5/2026). Kolaborasi strategis ini dirancang untuk mengintegrasikan keunggulan hilirisasi Indonesia dengan pasokan bijih nikel Filipina guna memperkuat rantai pasok mineral kritis global. Langkah ini memperkokoh posisi kedua negara yang saat ini mendominasi mayoritas produksi dan cadangan nikel di tingkat internasional.

Kesepakatan tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation di sela-sela rangkaian KTT AECC ke-27. Kerja sama ini mencakup pertukaran informasi untuk stabilisasi perdagangan regional, pengembangan teknologi hilirisasi, hingga pengembangan sumber daya manusia guna mendukung ekosistem industri yang berkelanjutan.

Dominasi Mutlak 73 Persen Produksi Nikel Dunia

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS) 2026, gabungan kekuatan Indonesia dan Filipina menguasai 73,6 persen produksi nikel global pada 2025. Indonesia memimpin dengan kontribusi 2,6 juta ton atau 66,7 persen, sementara Filipina menyumbang 270.000 ton atau 6,9 persen dari total produksi dunia.

Dari sisi cadangan, Indonesia menyimpan 62 juta ton nikel yang setara dengan 44,5 persen cadangan dunia. Filipina melengkapi kekuatan tersebut dengan cadangan sebesar 4,8 juta ton atau 3,4 persen. Sinergi ini menempatkan kedua negara sebagai poros utama dalam peta persaingan mineral global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan fondasi bagi terciptanya jalur pasokan yang terstruktur. Melalui koridor ini, kekuatan smelter Indonesia akan terhubung langsung dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina untuk menciptakan ekosistem produksi yang tak terpisahkan.

Integrasi Smelter Indonesia dan Pasokan Filipina

"Sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia," ujar Airlangga dalam keterangannya.

Saat ini, Indonesia telah memiliki ekosistem hilirisasi yang masif dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai USD9,73 miliar pada 2025. Smelter-smelter di dalam negeri membutuhkan pasokan bijih yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) yang tepat, yang dapat dipenuhi melalui proses blending bijih asal Filipina.

Integrasi ini memungkinkan Filipina untuk naik kelas dari sekadar eksportir bijih mentah menjadi bagian dari rantai nilai regional yang lebih tinggi. Di sisi lain, Indonesia mendapatkan kepastian pasokan bahan baku (feedstock security) untuk mendukung industri baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat.

Target Investasi USD47 Miliar dan Transisi Energi

Pemerintah memproyeksikan investasi di sektor nikel mampu menyentuh angka USD47,36 miliar dengan target penyerapan 180.600 tenaga kerja pada 2030. Nikel memegang peran sentral sebagai mineral kritis dalam transisi energi, terutama untuk teknologi penyimpanan energi (energy storage).

Produk turunan nikel akan diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan energi nasional maupun kawasan, baik untuk baterai kendaraan listrik (EV) maupun penyimpanan energi panel surya. Hilirisasi ini diharapkan berkontribusi langsung terhadap bauran energi bersih yang berkelanjutan di kawasan ASEAN.

Hubungan dagang kedua negara pun tercatat semakin erat dengan nilai ekspor Indonesia ke Filipina mencapai USD10,22 miliar sepanjang 2025. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai mitra dagang terbesar ketiga bagi Filipina, mempertegas posisi strategis kedua negara dalam kerja sama komoditas energi dan otomotif.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: kabarbursa.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top