Pencarian

Warga Bulungcangkring Kudus Keluhkan Serbuan Lalat dari 20 Kandang Ayam, Minta Ditutup

Sabtu, 03 Oktober 2026 • 07:01:31 WIB
Warga Bulungcangkring Kudus Keluhkan Serbuan Lalat dari 20 Kandang Ayam, Minta Ditutup
Warga Bulungcangkring, Kudus, mengeluhkan serbuan lalat dari sekitar 20 kandang ayam yang berjarak sekitar 500 meter dari permukiman.

KUDUS — Nur Ahmad, perwakilan warga Bulungcangkring, menyebut gangguan lalat sudah berlangsung beberapa tahun dan kian parah dalam enam bulan terakhir. Ia menilai kesabaran warga justru dimanfaatkan pemilik kandang untuk terus beroperasi tanpa perbaikan.

"Lalat mengerikan sekali. Lalat itu sudah beberapa tahun lalu. Kita sudah sabar, tapi ketika kita sabar mereka (pemilik kandang) menjadi-jadi," ujar Nur kepada wartawan di lokasi.

20 Kandang Berjarak 500 Meter dari Rumah Warga

Dari penelusuran warga, ada sekitar 20 kandang ayam yang berdiri tak jauh dari permukiman. Jaraknya hanya sekitar 500 meter. Kandang-kandang itu dimiliki beberapa orang berbeda.

RW 8 menjadi wilayah dengan populasi lalat paling padat. Serbuan juga sampai ke sekolah di desa tersebut. "Penjelasan dari desa itu ada 20 kandang. Sementara yang paling ledakan populasi lalat terdampak RW 8. Termasuk ke sekolah juga," tutur Nur.

Audensi April 2026, Enam Bulan Tanpa Tindak Lanjut

Warga sebenarnya sudah menempuh jalur musyawarah. Pada April 2026, mereka audiensi dengan pemerintah desa dan pemilik kandang. Hasil kesepakatan mencakup penekanan angka lalat dan pembersihan kandang.

Paguyuban peternak bahkan menyanggupi mengosongkan kandang yang tidak bersih. Namun, hingga kini tidak ada tindakan apa pun. "Bulan April 2026 kita audiensi, tapi setelah tanda tangan 6 bulan tidak ada tindakan," kata Nur.

Kondisi justru memburuk. "Dari bulan April kita menekankan populasi lalat, justru kondisinya semakin banyak sampai sekarang ini," jelasnya.

Tuntutan Warga: Kandang Ayam Ditutup

Kesepakatan yang tak dijalankan membuat warga kehilangan kepercayaan. Mereka kini menuntut kandang ditutup, bukan sekadar dibenahi.

"Warga menuntut agar kandang ayam ditutup, soalnya enam bulan yang lalu sudah mengadakan mediasi, mediasi sudah disepakati untuk angka lalat, dan pembersihan kandang," terang Nur.

Ia menambahkan, paguyuban sebenarnya sudah berjanji menghentikan operasi kandang yang tidak bersih. "Terus paguyuban menyanggupi kalau ada kandang yang tidak bersih, pihak kandang tidak diisi ayam atau dioperasi. Tapi setelah 6 bulan dari tanda tangan sampai sekarang tidak ada tindakan," lanjut dia.

Pemdes Janji Panggil Pengelola Pekan Ini

Kepala Desa Bulungcangkring, Sulakim, merespons keluhan tersebut. Ia berencana memanggil pemilik kandang bersama warga untuk mencari solusi yang tidak merugikan kedua pihak.

"Dalam seminggu ke depan, langkah Pemdes akan memanggil pengelola kandang, rencana Sabtu kita sampaikan keluhan warga," ujarnya kepada wartawan di Bulungcangkring.

Sulakim berharap pertemuan itu menghasilkan kesepakatan yang bisa dijalankan. "Semoga ada jalan keluar yang terbaik, kami berharap pengelola jalan bisa berjalan kenyamanan warga juga bisa terkendalikan," lanjut dia.

Peternak Sebut Siklus Panen Jadi Pemicu

Salah satu peternak, Heri Hermawan, membenarkan ada 20 kandang di desa itu. Ia mengaku sudah menjalankan penyemprotan di area kandang dan permukiman warga sebagai bentuk antisipasi.

"Sepertinya peternakan di sini ada 20 peternakan, antisipasi kita biosecurity di farm kita sudah berjalan untuk pagi sore kita semprot di area farm. Untuk ke masyarakat kita semprot ke permukiman warga juga," kata Heri.

Menurutnya, lonjakan lalat berkaitan dengan musim panen ayam. Siklus panen yang tidak serentak membuat lalat berpindah dari satu kandang ke kandang lain. "Karena lalat biasanya ada banyak saat musim panen. Biasanya kalau musim panen lebih banyak karena siklus panen kita tidak bisa bareng tidak bisa serentak jadi bisa berpindah-pindah dari ujung ke ujung. Musim pergantian biasanya banyak lalat," jelasnya.

Heri menyatakan komitmennya menekan penyebaran lalat lewat penguatan biosecurity. "Kita ke depan agar kompak meningkatkan bio security, menekan perkembangan lalat, kalau mungkin menghilangkan di dunia peternakan susah, tetap ada lalat pasti ada, harapan kita memaksimalkan bio security agar perkembangan lalat tidak begitu pesat," pungkas dia.

Follow katajateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks