JAWA TENGAH — Jakarta — Strategi VinFast untuk mendongkrak penjualan kendaraan listrik di Indonesia tidak hanya mengandalkan produk. Pabrikan asal Vietnam itu juga terus memperkuat infrastruktur pengisian daya dan memperpanjang masa gratis ngecas untuk pelanggan.
Head of Training Department VinFast Indonesia, Rinaldi Ramdani, mengungkapkan saat ini sudah ada 2.900 SPKLU V-Green yang aktif dan bisa digunakan di seluruh Indonesia. Jumlah itu disebutnya akan terus bertambah hingga mendekati 3.000 titik akhir bulan ini.
Gratis Ngecas Diperpanjang Setahun Lebih Lama
Program pengisian daya gratis awalnya hanya berlaku hingga 2028. Namun, VinFast memutuskan memperpanjang masa berlaku sampai tahun 2029. Keputusan ini diambil setelah melihat antusiasme konsumen terhadap fasilitas tersebut.
"Kami masih memberikan free charging sampai 2029 untuk customer-customer kami yang berpindah atau memilih kendaraan VinFast," ujar Rinaldi di sela-sela agenda media drive VinFast VF MPV 7 di Jakarta, Sabtu (1/6).
Menurut Rinaldi, fasilitas ini menjadi salah satu daya tarik utama karena secara langsung menurunkan biaya operasional kendaraan. "Ini sebetulnya kami perpanjang ya, karena sebelumnya hanya sampai 2028, tapi kita melihat ternyata banyak yang tertarik dengan free charging. Karena memang tentunya itu menurunkan cost ya, makanya kita perpanjang hingga 2029," tambahnya.
Target 10.000 Titik SPKLU Akhir Tahun
VinFast tidak berhenti di angka 2.900 titik. Bersama mitra V-Green, mereka menargetkan ekspansi besar-besaran hingga akhir tahun. "Sampai akhir tahun ini prediksinya atau targetnya adalah di 10.000 titik," tegas Rinaldi.
Informasi mengenai lokasi SPKLU yang tersedia bisa diakses melalui website resmi maupun aplikasi VinFast Auto. Pelanggan tinggal membuka platform tersebut untuk melihat titik pengisian daya terdekat yang sudah aktif.
VinFast menilai keberadaan jaringan pengisian daya yang luas dan gratis menjadi kunci mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Langkah ini dinilai strategis, terutama bagi konsumen yang masih ragu beralih dari mobil berbahan bakar konvensional ke mobil listrik karena khawatir soal infrastruktur dan biaya pengisian.