DEMAK — Rusaknya sumur artesis di Desa Jamus, Kecamatan Mranggen, memicu krisis air bersih yang telah berlangsung hampir satu bulan. Warga di dua dukuh, Krajan dan Gerjen, harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Krisis ini berdampak langsung pada 200 kepala keluarga. Mereka tersebar di satu RT di Dukuh Krajan dan tiga RT di Dukuh Gerjen. Sebagian warga mengaku harus membeli air galon untuk mandi dan konsumsi, sementara yang lain memanfaatkan sumur manual milik tetangga yang masih memiliki cadangan air.
Biaya Membengkak, Warga Beli Puluhan Galon Per Hari
Salah seorang warga, Suwarni, mengatakan kondisi ini sudah berlangsung sekitar tiga minggu. Ia harus mengeluarkan biaya tambahan yang cukup besar.
“Kemarin beli terus, buat mandi dan kebutuhan sehari-hari. Sehari habis sekitar 10 (galon) lebih. Per galon saya beli di sini Rp6 ribu,” ujarnya, Senin (29/6/2026).
Warga lain, Tiya, mengaku selama ini mengambil air dari sumur milik saudara. Ia membawa jeriken untuk mandi dan mencuci. “Alhamdulillah terbantu. Kemarin kalau mau mandi susah, nyuci juga susah, soale setiap hari harus ngangsu,” ungkapnya.
Penyebab: Sumur Artesis Rusak, Perbaikan Masih Berlangsung
Kepala Desa Jamus, Moh Rifai, menjelaskan krisis dipicu oleh kerusakan sejumlah sumur artesis yang menjadi andalan warga. Perbaikan saat ini masih dilakukan.
“Sebagian besar sumur artesis di desa kami mengalami kerusakan sehingga warga kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini sudah berlangsung hampir satu bulan. Karena itu kami mengajukan bantuan,” terangnya.
Selama sumur belum berfungsi normal, pemerintah daerah melalui BPBD Demak telah mulai menyalurkan bantuan air bersih. Kabid Darlog BPBD Demak, Suprapto, mengatakan pihaknya akan terus menyiagakan armada dan pasokan air untuk masyarakat terdampak.
“Laporan dan hasil pemantauan (permintaan air bersih) itu baru dua desa di Ngaloran dan Jamus. Mudah-mudahan untuk kebutuhan air masih tercukupi karena ini dikarenakan ada masalah pada pamsimas,” jelasnya.