SEMARANG — Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kementerian Perdagangan, Ari Satria, mengungkapkan bahwa Jawa Tengah masuk dalam 10 besar daerah dengan kontribusi ekspor terbesar secara nasional. Pada TEI sebelumnya, total potensi transaksi yang diraih provinsi ini mencapai USD 18,4 miliar.
“Produk furnitur mencatatkan potensi transaksi lebih dari USD 700 juta pada penyelenggaraan TEI tahun lalu. Sementara fesyen sekitar USD 56 juta,” ujar Ari dalam sosialisasi TEI 2026 di Novotel Semarang, Selasa (30/6/2026).
Dua Hall Khusus untuk Furnitur pada TEI 2026
Besarnya angka transaksi mendorong pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap sektor furnitur pada edisi mendatang. Menurut Ari, panitia bahkan menyiapkan dua hall khusus untuk mengakomodasi kebutuhan peserta dan buyer internasional yang diperkirakan hadir.
Selain furnitur, TEI 2026 juga akan menampilkan berbagai produk unggulan Indonesia dalam sejumlah zona tematik. Digital and Business Development Manager PT Debindo Multi Adhiswasti, Nabil Ramadhana, menyebut beberapa komoditas lain yang selama ini banyak diminati pasar global.
“Komoditas yang paling diminati sebelumnya antara lain produk pertambangan, logam mulia, serta CPO beserta turunannya,” kata Nabil.
Investasi Ikut Berkontribusi Signifikan
Nabil menambahkan bahwa sektor investasi juga memiliki kontribusi signifikan dalam TEI. Porsinya mencapai sekitar 19 persen dari total potensi transaksi atau senilai USD 43,7 juta.
Menurutnya, TEI tidak sekadar ajang promosi produk ekspor, melainkan juga sarana mempertemukan pelaku usaha dengan buyer dan investor global. “TEI menjadi gateway yang mempertemukan eksportir dengan buyer dan investor dari berbagai negara,” ujarnya.
Jadwal dan Target Pameran
TEI 2026 dijadwalkan berlangsung di ICE BSD, Tangerang, pada 14–18 Oktober 2026. Pemerintah berharap ajang ini mampu memperluas akses pasar internasional bagi produk-produk unggulan Indonesia, terutama furnitur asal Jawa Tengah yang sudah terbukti menjadi motor ekspor daerah.