KARANGANYAR — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar mengonfirmasi temuan 122 kasus Tuberkulosis (TBC) pada anak-anak. Data ini menjadi perhatian serius karena menunjukkan penyakit yang kerap dikaitkan dengan orang dewasa itu juga mengancam kelompok usia muda.
Di Mana Saja Wilayah Persebaran Kasus TBC Anak?
Kepala Dinkes Karanganyar, Purwati, menyebutkan bahwa kasus TBC anak tersebar di hampir seluruh kecamatan. Beberapa wilayah dengan temuan terbanyak antara lain Kecamatan Karanganyar, Jaten, dan Jumapolo.
“Penyakit ini tidak memandang usia. Kami menemukan anak-anak mulai dari balita hingga remaja terpapar,” ujar Purwati dalam keterangan yang diterima, Selasa (19/11/2024).
Mengapa Angka Ini Perlu Diwaspadai?
TBC pada anak seringkali sulit terdeteksi karena gejalanya tidak khas. Batuk yang tak kunjung sembuh, demam berkepanjangan, hingga berat badan sulit naik menjadi indikator awal yang kerap diabaikan.
Dinkes Karanganyar menekankan pentingnya peran orang tua dan tenaga kesehatan di puskesmas untuk aktif melakukan skrining. “Kami terus mendorong deteksi dini agar penularan bisa segera dihentikan,” tambah Purwati.
Langkah Penanganan: Pengobatan Gratis hingga Skrining Massal
Pemerintah Kabupaten Karanganyar memastikan seluruh pasien anak mendapatkan pengobatan TBC secara gratis. Obat diberikan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan rumah sakit daerah.
Selain pengobatan, Dinkes juga menggencarkan skrining kontak erat di lingkungan tempat tinggal pasien. Langkah ini bertujuan memutus rantai penularan dan menemukan kasus baru yang belum terlaporkan.
“Kami minta warga yang memiliki gejala batuk lebih dari dua minggu segera memeriksakan diri ke puskesmas. Jangan menunggu hingga parah,” imbau Purwati.
Apa yang Bisa Dilakukan Masyarakat?
Dinkes Karanganyar mengimbau warga untuk menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan ventilasi rumah cukup baik. TBC menyebar melalui droplet atau percikan air liur saat batuk atau bersin.
Edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga terus digalakkan di sekolah-sekolah dan posyandu. Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, terutama pada anak-anak yang daya tahan tubuhnya masih rentan.