Pencarian

Registrasi EV China Anjlok 9 Persen Usai Insentif Dicabut, Pengamat Beberkan Perilaku Konsumen

Sabtu, 20 Juni 2026 • 23:03:31 WIB
Registrasi EV China Anjlok 9 Persen Usai Insentif Dicabut, Pengamat Beberkan Perilaku Konsumen
Registrasi kendaraan listrik di China turun 9 persen pada Mei 2026 setelah insentif pemerintah dicabut.

JAWA TENGAH — Data yang dikutip Reuters pada 18 Juni 2026 menunjukkan registrasi EV di China turun sekitar 9 persen pada Mei 2026. Penurunan terjadi setelah berbagai program dukungan pemerintah berakhir pada awal tahun.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai pelemahan tersebut tidak serta merta membuktikan pasar EV China sepenuhnya artifisial. Menurut dia, penurunan penjualan justru mencerminkan perilaku konsumen yang rasional.

“Penurunan registrasi EV China sekitar 9 persen pada Mei 2026 menunjukkan bahwa pasar EV masih sangat sensitif terhadap subsidi, insentif pajak, dan program trade-in, tetapi ini tidak berarti pasar EV China sepenuhnya artifisial,” kata Yannes kepada KabarBursa.com, Jumat, 19 Juni 2026.

Ekosistem EV China Sudah Matang, Bukan Sekadar Subsidi

Yannes menegaskan bahwa China telah membangun ekosistem kendaraan listrik yang jauh lebih matang dibanding mayoritas negara lain. Perkembangan itu mencakup teknologi baterai yang semakin aman, jarak tempuh lebih jauh, harga baterai yang makin murah, jaringan pengisian daya luas, serta banyak pilihan model kendaraan.

“China sudah memiliki ekosistem EV yang matang, mulai dari teknologi baterai yang semakin aman, mileage lebih jauh serta semakin murah, model kendaraan, charging, hingga basis konsumennya,” tuturnya.

Karena itu, pelemahan penjualan setelah insentif dicabut lebih mencerminkan respons pasar terhadap perubahan harga, bukan hilangnya minat terhadap EV secara permanen.

Konsumen Rasional: Menunda Pembelian, Bukan Meninggalkan EV

Alih-alih meninggalkan kendaraan listrik, sebagian konsumen China justru memilih menunda keputusan pembelian. Mereka menunggu program promosi baru, diskon, atau penyesuaian harga dari produsen.

“Jadi yang lebih menguat adalah konsumen tetap rasional. Ketika insentif dicabut, mereka menunda pembelian, menunggu diskon, atau berpindah ke alternatif lain,” ujar Yannes.

Kondisi ini lazim terjadi di berbagai industri ketika dukungan fiskal dihentikan. Konsumen cenderung melakukan kalkulasi ulang terhadap biaya kepemilikan kendaraan dan mencari waktu pembelian yang lebih menguntungkan.

Subsidi Tetap Akselerator, Bukan Satu-satunya Penggerak

Meski bukan satu-satunya faktor, subsidi dan insentif tetap berperan penting dalam mempercepat adopsi EV. Dukungan tersebut terutama berpengaruh pada konsumen sensitif harga di segmen menengah.

“Artinya, subsidi/insentif bukan satu-satunya penggerak, tetapi tetap menjadi akselerator penting, terutama bagi pembeli marginal dan segmen harga menengah,” ujarnya.

Pandangan ini menjadi pelajaran bagi negara-negara yang sedang mendorong pertumbuhan EV, termasuk Indonesia. Keberhasilan membangun pasar EV tidak hanya bergantung pada besarnya subsidi, tetapi juga pada kemampuan menciptakan ekosistem kuat—mulai dari teknologi, infrastruktur pengisian daya, hingga ketersediaan produk yang sesuai kebutuhan konsumen.

Bagikan
Sumber: kabarbursa.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks