SOLO — Ribuan warga memadati kawasan Keraton Solo hingga sepanjang rute kirab menyaksikan prosesi sakral tahunan yang dimulai tepat pukul 00.00 WIB. Tiga kebo bule berjalan paling depan, disusul abdi dalem, peserta kirab, dan belasan pusaka yang dikeluarkan dari keraton.
Dua Kubu, Satu Gelar: Siapa Duduk di Mana?
Dua raja yang sama-sama menyandang gelar Pakubuwono XIV duduk berseberangan. SISKS Pakubuwono XIV Mangkubumi memilih posisi menghadap timur, sementara SISKS Pakubuwono XIV Purbaya duduk di sisi berlawanan menghadap barat, tepat ke arah Sasana Parasedya. Posisi saling membelakangi ini menjadi perhatian publik yang memadati lokasi upacara hajad dalem.
14 Pusaka Dikirab, Kubu Purbaya Tak Ikut Mengeluarkan
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, menjelaskan bahwa seluruh pusaka yang dikirab merupakan milik kubu SISKS Pakubuwono XIV Mangkubumi. "Iya, yang mengeluarkan pusaka dari PB XIV Mangkubumi. Kemarin di dalam rapat, yang di sana tidak mengeluarkan, sehingga kita yang mengeluarkan. Walaupun kita tadinya juga siap, kalau mau sama-sama ya monggo," ujarnya.
Eddy berharap momentum Malam 1 Sura menjadi sarana doa bersama untuk kebaikan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. "Alhamdulillah berjalan dengan baik, mudah-mudahan bermanfaat. Saya pesankan untuk semua, untuk kita semua berdoa untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Mudah-mudahan kebaikan itu memantul ke Keraton juga," katanya.
Keputusan Last Minute: Pusaka Kubu Purbaya Tidak Dimiayoskan
Pengageng Paran Parakarsa kubu PB XIV Purbaya, KPAAd Nur Wijaya Adiningrat atau Kanjeng Dany, menegaskan keputusan tidak mengeluarkan pusaka merupakan dawuh langsung dari Sinuhun yang diputuskan pada saat-saat terakhir. "Dengan pertimbangan berbagai macam hal, termasuk prioritas keselamatan pusaka dan lain hal, maka Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Pakubuwono XIV memutuskan untuk tidak miyoskan pusaka malam hari ini," katanya.
Menurut Dany, peringatan Malam 1 Sura tidak hanya identik dengan kirab pusaka. Rangkaian ritual lain tetap dilaksanakan, mulai dari haul dalem Pakubuwono X, wilujengan, doa bersama, iktikaf, salat hajat di Masjid Pujosono, hingga doa di Bandengan. "Upacara peringatan Malam 1 Sura itu bukan cuma kirab saja. Akan tetapi ada khaul dalem Pakubuwono X, ada wilujengan, doa bersama, iktikaf dan salat hajat di Masjid Pujosono, serta doa di Bandengan. Rangkaian upacaranya banyak sekali," terangnya.
Dany membantah anggapan bahwa batalnya kirab dari kubu Purbaya karena lebih dulu digelar oleh kubu Mangkubumi. "Ketika kita mengkaji lagi lalu disampaikan kepada Sinuhun, kemudian beliau dengan otoritasnya menyampaikan dawuh pada last minute untuk tidak miyoskan pusaka. Itu kenapa beberapa jam sebelumnya oncor dan perlengkapan lainnya ditarik kembali ke tempat penyimpanannya," pungkasnya.
Ndalem Ageng Tetap Tertutup, Ritual Adat Berjalan
Dany juga menegaskan bahwa hingga rangkaian haul selesai, Ndalem Ageng tetap dalam kondisi tertutup meskipun sejumlah prosesi adat berlangsung di dalamnya. "Posisi Ndalem Ageng tetap tertutup. Upacara adat tetap dilaksanakan, tetapi pusaka tidak dimiyoskan atau tidak dikeluarkan," ujarnya.
Sementara itu, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan menyebut secara umum seluruh rangkaian kirab berjalan lancar. "Baik. Kita doakan semua sesuai dengan rencana," ujarnya singkat terkait jalannya kirab tahun ini.