LASEM — Malam pergantian tahun baru Jawa, 1 Suro, menjadi momentum sakral bagi warga Lasem, Rembang. Mereka menggelar ritual ruwatan di Sanggar Pamujan Kumpulan Jowo Lasem. Prosesi ini dipimpin oleh sesepuh setempat, Ernantoro.
Ernantoro menegaskan, momen 1 Suro bukan sekadar pergantian kalender. Ada dimensi spiritual yang harus dijaga setiap peserta. Kekhusyukan batin menjadi syarat utama mengikuti rangkaian ruwatan.
Pikiran Harus Tenang, Tidak Boleh ke Mana-mana
"Pada waktu 1 Suro itu memang harus pikiran itu tenang, pikiran itu tidak boleh ke mana-mana," ujar Ernantoro kepada 20detik dalam video yang beredar, Selasa (8/7/2025).
Pernyataan itu menegaskan bahwa ritual ini mengutamakan kekhusyukan batin, bukan sekadar seremonial. Peserta diharapkan mampu mengendalikan pikiran dan fokus pada doa-doa yang dipanjatkan.
Prosesi Ruwatan di Lasem
Ritual ruwatan di Lasem diisi dengan pembacaan doa dan mantra tertentu. Tujuannya membersihkan diri dari energi negatif serta memohon keselamatan di tahun baru.
Beberapa sesepuh adat memimpin prosesi dengan sesaji khas. Warga yang hadir mengikuti setiap tahapan dengan tertib. Suasana sakral tercipta di tengah malam.
Lasem dan Tradisi 1 Suro
Lasem dikenal sebagai kota tua dengan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang kuat. Tradisi ruwatan di malam 1 Suro menjadi salah satu warisan leluhur yang masih dirawat.
Bagi masyarakat setempat, ritual ini bukan sekadar pelestarian budaya. Ruwatan menjadi pengingat untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta di awal tahun baru Jawa.