DEMAK — Kepala Desa Banjarsari Haryanto menyebut fasilitas desalinasi itu sebagai jawaban atas kebutuhan air bersih warga pesisir yang selama ini bergantung pada pasokan luar. Air laut diolah lewat teknologi khusus hingga menjadi air tawar yang bisa langsung diminum tanpa dimasak lebih dulu.
Warga cukup membayar Rp 4.000 per galon sebagai pengganti biaya listrik untuk mengoperasikan mesin. Tarif itu jauh lebih murah dibanding membeli air isi ulang komersial yang harganya berkisar belasan ribu rupiah per galon.
Fasilitas ini menjadi sumber air minum harian bagi sekitar 2.000 jiwa di Banjarsari. Warga datang mengambil air hasil olahan mesin, lalu membawanya pulang untuk kebutuhan minum dan masak.
"Tentu ini menjadi solusi dan sangat bermanfaat bagi warga di sini dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Ada sekitar 2.000 warga yang bisa memanfaatkan air dari desalinasi tersebut," kata Haryanto, Senin (26/10/2026).
Bagi warga pesisir Sayung, akses air tawar bersih memang bukan perkara mudah. Intrusi air laut membuat sumur warga kerap berasa asin, terutama saat musim kemarau panjang.
Pengelolaan harian fasilitas dijalankan Kelompok Pengelola Sarana Prasarana Air Minum dan Sanitasi (KPSPAMS) Banjarsari. Kelompok ini bernaung di bawah BUMDes Berbenah Berkah Banjarsari dan bertanggung jawab menjaga mesin tetap beroperasi.
Dari tarif Rp 4.000 per galon, pengelola mencatat pemasukan sekitar Rp 2 juta per bulan untuk badan usaha desa. Uang itu dipakai menutup kebutuhan listrik dan perawatan peralatan agar layanan tidak terhenti.
Haryanto menyebut mesin desalinasi menjadi fasilitas unggulan desanya. Menurut dia, belum ada desa lain di Kabupaten Demak yang memiliki fasilitas serupa.
Gubernur Jawa Tengah meresmikan fasilitas ini pada 2025. Sejak beroperasi, mesin desalinasi menjadi andalan warga saat pasokan air dari PDAM atau pengepul air tangki tersendat.
Keberlanjutan layanan bergantung pada kesediaan warga membayar iuran bulanan dan kedisiplinan pengelola merawat mesin. Jika operasional lancar, Desa Banjarsari bisa menjadi rujukan bagi desa pesisir lain di Demak yang menghadapi persoalan air bersih serupa.