JAWA TENGAH — Telkomsel menegaskan penggunaan jaringan 5G tidak otomatis membuat baterai smartphone lebih boros dibanding 4G. Konsumsi daya perangkat, menurut penjelasan resmi operator itu, lebih ditentukan kualitas sinyal di lokasi pelanggan dan intensitas aktivitas digital yang berjalan. Klarifikasi ini menjawab kekhawatiran pengguna yang enggan pindah ke 5G karena takut baterai cepat habis.
Klaim bahwa jaringan 5G menguras daya baterai lebih cepat dibanding generasi sebelumnya tidak berdasar pada karakteristik infrastrukturnya. Telkomsel menyatakan kecepatan konsumsi energi perangkat sama sekali tidak dipengaruhi jenis generasi jaringan yang dipakai, baik 3G, 4G, maupun 5G.
Yang menentukan seberapa cepat baterai terkuras adalah seberapa kuat sinyal di sekitar pengguna dan seberapa berat aktivitas digital yang dijalankan. Sampai sekarang belum ada data teknis maupun use case yang membuktikan infrastruktur 5G merugikan daya tahan baterai secara langsung.
Penjelasan ini dirangkum dari edukasi cek fakta di Telkomsel Blog. Ada tiga kondisi utama yang membuat baterai smartphone terkuras saat data seluler aktif.
Pertama, berada di area dengan cakupan jaringan lemah. Komponen transmitter alias pemancar di dalam ponsel dipaksa bekerja ekstra keras menangkap sinyal. Proses pencarian sinyal yang berlangsung terus-menerus inilah yang paling menguras daya.
Kedua, penguncian jaringan secara manual. Mengunci setelan perangkat ke mode 5G Only atau LTE Only di daerah yang jangkauannya belum optimal membuat chipset memindai frekuensi tanpa henti. Pemindaian konstan itu memicu pemborosan energi yang sebenarnya bisa dihindari.
Ketiga, peningkatan aktivitas pengguna. Kecepatan internet yang masif mendorong kebiasaan streaming video resolusi tinggi atau bermain game online intensif. Dua aktivitas itu memang secara alami menuntut konsumsi daya lebih besar.
Telkomsel juga menepis anggapan bahwa sinyal 5G merusak komponen baterai. Menurut penjelasan mereka, jaringan 5G tidak merusak hardware maupun menurunkan kesehatan baterai smartphone secara langsung.
Keluhan ponsel terasa hangat saat mengakses internet 5G disebut wajar bila pengguna menjalankan aktivitas berat seperti mengunduh file berukuran besar atau bermain game dengan latensi rendah terus-menerus. Kondisi itu memicu chipset dan baterai bekerja lebih aktif.
Untuk menekan konsumsi daya, Telkomsel menyarankan pengguna tidak mengunci jaringan ke mode 5G Only. Pilihan mode otomatis atau Auto/Smart Switch lebih disarankan agar ponsel bisa beralih ke 4G secara fleksibel ketika sinyal 5G di lokasi melemah.
Soal kartu SIM, pengguna tidak perlu menggantinya ke kartu khusus 5G. Kartu bertipe USIM yang sudah dipakai untuk 4G bisa langsung digunakan mengakses layanan Telkomsel 5G selama perangkat dan lokasi mendukung.
Setiap smartphone 5G tidak memiliki konsumsi daya yang sama. Ketahanan baterai berbeda-beda tergantung kapasitas baterai fisik, jenis chipset yang digunakan, serta fitur manajemen daya pintar bawaan pabrikan.
Telkomsel terus memperluas jaringan 5G sejalan dengan slogan "Dekatnya Nyata, Pintarnya Terasa". Pemerataan infrastruktur dan jangkauan sinyal yang semakin rapat disebut membuat perangkat tidak perlu lagi menguras baterai untuk mencari sinyal.
Bagi pelaku bisnis digital dan investor startup, isu ini relevan karena adopsi 5G menjadi fondasi layanan berbasis data besar, streaming, dan aplikasi real-time. Selama kualitas jaringan merata, kekhawatiran soal baterai diprediksi tidak lagi menjadi penghambat utama migrasi pengguna ke 5G.