JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka di Rp17.900 per dolar AS pada Jumat (9/10) pagi, menguat 15 poin atau 0,08 persen dari penutupan sebelumnya. Penguatan terjadi seiring mayoritas mata uang Asia dan negara maju yang kompak terapresiasi terhadap dolar AS. Analis memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp17.850–Rp17.950 pada perdagangan hari ini.
Pergerakan rupiah pagi ini mengikuti pola serupa di kawasan. Yuan China naik 0,07 persen, peso Filipina menguat 0,15 persen, ringgit Malaysia terapresiasi 0,07 persen, dolar Singapura menguat 0,11 persen, dan yen Jepang naik 0,01 persen. Won Korea Selatan menjadi pengecualian dengan pelemahan tipis 0,03 persen, sementara dolar Hong Kong bergerak stagnan.
Mata uang utama negara maju juga kompak menguat terhadap dolar AS. Euro Eropa naik 0,13 persen, poundsterling Inggris menguat 0,12 persen, dolar Australia terapresiasi 0,24 persen, dolar Kanada naik 0,11 persen, dan franc Swiss menguat 0,18 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai penguatan rupiah ditopang meredanya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan pelemahan indeks dolar AS.
"Rupiah diperkirakan dibuka menguat terhadap dolar AS seiring meredanya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahnya indeks dolar AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Sentimen lain datang dari harapan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah. Harapan tersebut meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan adanya perkembangan positif dalam perundingan dengan Iran.
Dari dalam negeri, investor menantikan rilis data penjualan ritel periode Agustus. Data tersebut menjadi salah satu indikator untuk membaca kekuatan konsumsi rumah tangga di tengah tekanan eksternal.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Rentang tersebut mencerminkan ekspektasi penguatan terbatas selama sentimen global masih mendukung aset emerging market.
Penguatan 15 poin yang tercatat pagi ini menempatkan rupiah pada level yang masih rentan terhadap perubahan sentimen. Pasar obligasi AS dan pergerakan indeks dolar menjadi dua variabel yang paling menentukan arah jangka pendek.
Bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur dolar AS, rentang Rp17.850–Rp17.950 bisa menjadi acuan untuk mengatur strategi lindung nilai. Sementara investor asing akan mencermati kombinasi data ritel domestik dan perkembangan geopolitik sebelum menambah posisi di aset rupiah.