JAWA TENGAH — Perjalanan lintas provinsi dengan mobil listrik masih dianggap berisiko oleh banyak calon pembeli. EVriday Club bersama Grady Ewaldo, Abram Mailoa, Azzust Salim, dan Didit mencoba membuktikan anggapan itu salah lewat rute Jakarta-Bali yang ditempuh selama 11 hari. Rutenya sengaja dibuat berat: kemacetan kota besar, jalan non-utama yang rusak, tanjakan pegunungan, hingga 400 kilometer di Tol Trans Jawa, dengan kabin penuh penumpang dan bagasi berisi koper.
Angka paling menarik muncul setelah mobil melewati kombinasi jalan tol, perkotaan, tanjakan, dan turunan. Konsumsi energi yang tercatat di layar menunjukkan angka sekitar 7,5 kWh per 100 kilometer—hampir identik dengan klaim resmi pabrikan.
"Kita dapat konsumsi listrik itu kurang lebih 7,5 kWh per 100 km. Mirip sama klaimnya," ungkap Grady Ewaldo. Hasil ini signifikan karena beban yang diangkut jauh lebih berat dibanding kondisi pengujian ideal pabrikan.
Tantangan pertama datang di jalan menuju Tangkuban Perahu. Mobil harus melewati tanjakan sepanjang sekitar 19 kilometer dengan kenaikan elevasi hampir 1.000 meter. Karakter motor listrik membuat tugas ini terasa ringan.
"Rasanya enggak terasa kalau nanjak tinggi ya, enteng aja nih. Dari tadi kayak enggak ada effort-nya sama sekali," kata Didit.
VF MPV 7 dibekali motor listrik dengan tenaga 201 hp dan torsi 280 Nm. Torsi instan membuat akselerasi tidak menunggu perpindahan gigi, sementara fitur Hill Start Assist Control mencegah mobil mundur saat berhenti di tanjakan. Di jalur pegunungan menuju Kawah Putih, Galunggung, hingga Wonosobo, sistem Traction Control System (TCS) dan Electronic Stability Control (ESC) bekerja menjaga traksi roda.
Jalan non-utama Purwokerto-Wonosobo yang kurang mulus tidak membuat penumpang menderita. Suspensi belakang independen multi-link dan ground clearance 180 mm meredam guncangan dengan baik.
Di Tol Trans Jawa, saat melaju 400 kilometer dari Yogyakarta menuju Surabaya, kualitas kabin justru paling terasa. "Kalau dari sisi penumpang itu, vibrasi mobilnya minim banget. Meredam guncangan sampai bodinya enggak ikut getar, jadi anteng," kata Grady.
Abram Mailoa yang mengemudikan mobil menambahkan, "Kalau nyetirnya sih stabil ya, enak. Secara high speed oke banget karena cepat banget nariknya. Kita bisa melaju di atas 100 km/jam dengan cepat dan tetap enak."
Dengan dimensi 4.740 x 1.872 x 1.734 mm dan wheelbase 2.840 mm, kabin baris ketiga masih layak untuk penumpang dewasa. Bagasi tetap fungsional meski semua kursi terisi, dan bisa diperluas hingga 1.240 liter lewat fitur One-Touch Fold.
Ketersediaan stasiun pengisian daya adalah tantangan logistik terbesar. Setelah meninggalkan Tangerang Selatan, rombongan menemukan charger V-Green di lokasi yang tidak terduga: Kantor Pos Subang.
"Ini enggak expect di Kantor Pos, di ujungnya ada charger V-Green. Ada dua lagi," ujar Grady Ewaldo.
Proses pengisian dilakukan melalui aplikasi VinFast dengan pembayaran QRIS atau virtual account. VF MPV 7 mendukung DC fast charging CCS2 hingga 80 kW, dengan klaim pengisian 10-70 persen sekitar 30 menit. Sepanjang rute, titik pengisian ditemukan di Kantor RRI Yogyakarta, FamilyMart Malang, Kantor Pos Ketapanggiri dekat Pelabuhan Ketapang, hingga SPKLU PLN di Bedugul.
Sistem pengereman regeneratif terbukti bekerja efektif saat turunan panjang dari Bromo menuju Kantor Pos Sukapura. Dalam perjalanan sekitar 13 kilometer, kapasitas baterai dilaporkan bertambah sekitar 9 kWh—energi yang sebelumnya "terbuang" saat pengereman kini dikembalikan ke baterai.
Uji jalan 11 hari ini membuktikan VF MPV 7 bukan mobil listrik "city car" yang cuma nyaman dipakai di dalam kota. Efisiensi energinya nyata, performanya mumpuni di medan pegunungan, dan kabinnya cukup nyaman untuk perjalanan berhari-hari.
Mobil ini cocok untuk keluarga yang ingin pindah ke kendaraan listrik tapi masih sering melakukan perjalanan antar kota. Namun, sebelum membeli, pastikan rute yang biasa ditempuh sudah memiliki infrastruktur pengisian daya yang memadai—di luar Pulau Jawa, jaringan V-Green dan SPKLU masih belum merata.