JEPARA — Di tengah hiruk-pikuk kebutuhan pangan, keberadaan peternak ayam petelur kerap menjadi penopang utama ketersediaan protein hewani yang murah bagi masyarakat. Muhammad Reza Dwiyansah, pemuda asal Desa Geneng, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, memilih jalan ini di usianya yang masih 22 tahun.
Reza mengelola tidak kurang dari 1.200 ekor ayam petelur. Dari populasi tersebut, kandangnya mampu memproduksi telur rata-rata 60 kilogram setiap hari. Baginya, menjadi produsen telur bukan sekadar soal keuntungan finansial, melainkan juga bagian dari tanggung jawab sosial untuk menyiapkan generasi emas.
"Sebagai produsen itu yang penting telaten dan konsisten. Kita niatkan bisnis sembari membantu menyiapkan generasi emas 2045, yaitu generasi yang cerdas dengan suplai kebutuhan protein hewani tercukupi," tuturnya, Minggu (6/9/2026).
Menjaga produksi tetap stabil tidak cukup hanya dengan mengejar jumlah telur. Reza menekankan bahwa pakan dan kebutuhan nutrisi ayam menjadi perhatian utama agar telur yang dihasilkan tetap berkualitas. Ia memastikan setiap harinya ayam-ayamnya mendapatkan asupan yang tepat.
Dengan perawatan yang telaten, telur yang dihasilkan dari kandangnya memiliki berat rata-rata 55 hingga 75 gram per butir. Ukuran ini tergolong ideal untuk telur konsumsi dan diminati oleh warga sekitar.
Sebagian besar produksi telur Reza dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat di sekitar Desa Geneng. Ia sengaja memprioritaskan permintaan dari lingkungan terdekatnya agar manfaat usaha tersebut bisa langsung dirasakan oleh tetangganya sendiri.
"Populasi yang saya miliki memang masih sedikit, produksinya pun juga masih terbatas. Setidaknya bisa membantu suplai kebutuhan telur di kalangan masyarakat," terangnya.
Selain untuk kebutuhan rumah tangga, telur produksinya juga disalurkan untuk mendukung sejumlah program bantuan makanan tambahan (PMT). Program ini menjadi salah satu upaya untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak di Jepara.
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang relatif mudah dijangkau masyarakat. Kandungan gizinya dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan anak, mulai dari perkembangan fisik, fungsi otak, hingga menjaga daya tahan tubuh.
Keberadaan peternak seperti Reza menjadi bagian kecil dari rantai panjang pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Produksi yang terjaga dari kandang kemudian bergerak melalui distribusi hingga sampai ke rumah-rumah warga serta ikut memenuhi kebutuhan pangan gizi masyarakat.
Kisah Reza membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berkontribusi pada ketahanan pangan. Dengan ketelatenan dan konsistensi, usaha peternakan skala kecil pun bisa menjadi pilar penting bagi pemenuhan gizi di tingkat lokal.