SEMARANG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dengan status awas untuk 24 kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Status ini berlaku untuk periode sepuluh hari ke depan.
Informasi tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi @bmkgjateng pada Selasa (1/9/2026). Prakirawan BMKG, Harits Syahid Hakim, menyebut hampir seluruh wilayah Jateng kini terdampak kondisi kekeringan.
Status awas dalam klasifikasi BMKG menunjukkan kondisi kekeringan yang sudah berada pada tingkat tinggi. Indikatornya adalah periode Hari Tanpa Hujan (HTH) yang telah melampaui 60 hari, masuk dalam kategori ekstrem.
Hakim menegaskan bahwa status ini bukan berarti bencana kekeringan pasti terjadi di seluruh wilayah tersebut. "AWAS bukan berarti pasti terjadi bencana kekeringan di seluruh wilayah tersebut, tetapi merupakan peringatan dini mengenai potensi dampak kekeringan yang perlu diantisipasi," jelasnya dalam pesan singkat, Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan infografis yang diunggah, daerah-daerah yang masuk dalam status awas tersebar dari pantai utara hingga selatan Jawa Tengah. Berikut daftar lengkapnya:
Hakim memaparkan sejumlah dampak yang perlu diwaspadai selama periode kekeringan ini. Debit sumber air diprediksi akan menurun, bahkan mata air berpotensi mengering sehingga masyarakat akan kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk mandi, mencuci, dan konsumsi.
Sektor pertanian menjadi sektor yang paling rentan terdampak. "Tanaman mengalami kekurangan air, pertumbuhan tanaman terganggu, risiko gagal panen meningkat, produktivitas pertanian dapat menurun," ungkapnya.
Selain itu, meningkatnya risiko kebakaran lahan juga menjadi perhatian khusus BMKG pada periode musim kemarau ini.
Menghadapi kondisi ini, masyarakat di wilayah berstatus awas diminta mulai melakukan langkah mitigasi sejak sekarang. BMKG mengimbau warga untuk menghemat penggunaan air dan menghindari pemborosan.
"Tampung dan simpan air bersih untuk kebutuhan penting, prioritaskan air untuk minum, memasak, sanitasi, dan kebutuhan pokok," tutur Hakim. Imbauan ini ditujukan agar cadangan air tetap tersedia ketika puncak kekeringan terjadi.