UNGARAN — Tangan-tangan terampil ibu-ibu PKK RT 02/RW 04 Dukuh Tegalmelik, Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, terlihat sibuk membungkus nasi dengan kulit tahu tipis khas Jepang. Mereka tengah mempraktikkan pembuatan Inari Sushi, sebuah hidangan yang selama ini identik dengan budaya negeri sakura, namun kali ini menggunakan bahan baku utama dari sawah sendiri.
Inisiatif ini datang dari mahasiswa KKN-T 84 UNDIP yang melihat potensi besar lahan pertanian di desa tersebut. Berdasarkan diskusi dengan Ketua Kelompok Tani Desa Gebugan, Maskur, sekitar 70 persen lahan pertanian di desa itu ditanami padi. Alih-alih hanya dijual dalam bentuk gabah atau beras mentah, mahasiswa mencoba mengenalkan cara pengolahan yang berbeda.
Inari Sushi dipilih bukan tanpa alasan. Hidangan ini menggunakan nasi sebagai bahan utama dan proses pembuatannya relatif sederhana. Mahasiswa KKN-T 84 menilai makanan ini cocok diperkenalkan sebagai contoh inovasi pengolahan beras yang mudah ditiru.
Dalam pelatihan yang berlangsung di rumah warga itu, peserta tidak hanya diberi teori. Mahasiswa menayangkan video tutorial, memperlihatkan contoh produk jadi, lalu mendampingi ibu-ibu PKK praktik langsung memasukkan nasi ke dalam kulit Inari dan menambahkan topping.
Tak berhenti pada demonstrasi, para mahasiswa juga membagikan leaflet berisi panduan pembuatan Inari Sushi. Panduan itu diharapkan menjadi referensi bagi ibu-ibu PKK untuk mencoba membuat kembali secara mandiri di rumah.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa inovasi pangan tidak selalu membutuhkan bahan baku impor yang sulit didapat. Beras yang selama ini menjadi makanan pokok, bisa disulap menjadi sajian dengan tampilan dan konsep berbeda.
Selain menambah keterampilan, pelatihan ini menjadi media pengenalan budaya Jepang melalui pendekatan kuliner yang dekat dengan aktivitas sehari-hari. Mahasiswa KKN-T 84 UNDIP berharap wawasan baru ini bisa membuka peluang bagi ibu-ibu PKK untuk menciptakan produk pangan lain yang bernilai tambah.
Dengan memanfaatkan potensi pertanian yang tersedia, masyarakat Desa Gebugan diharapkan tidak hanya mempertahankan beras sebagai komoditas pangan, tetapi juga mampu melihat peluang pengembangannya menjadi produk kreatif yang bernilai jual.