SEMARANG — Proyek strategis ketahanan energi nasional di Jawa Tengah mulai berjalan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan pembangunan PLTS Terapung Gajah Mungkur di Kabupaten Wonogiri telah dimulai, menyusul seremoni groundbreaking yang digelar serentak dengan peluncuran Program PLTS 100 GWp di Bali pada Selasa (25/8/2026).
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengungkapkan, nilai investasi yang digelontorkan untuk proyek ini mencapai sekitar Rp 1,6 triliun. Setelah beroperasi, pembangkit bertenaga surya ini diharapkan menjadi tulang punggung transisi energi di wilayah tersebut.
"Pengembangan energi baru terbarukan menjadi prioritas Jateng untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil," ujar Ahmad Luthfi di Semarang, Rabu (26/8/2026).
General Manager PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jateng, Bramantyo Anggun Pambudi, menjelaskan bahwa listrik yang dihasilkan PLTS ini tidak hanya akan dinikmati warga sekitar waduk. Energi yang diproduksi akan disalurkan melalui jaringan 150 kilovolt menuju Gardu Induk Nguntoronadi yang berjarak sekitar 11,7 kilometer.
Dari titik tersebut, aliran listrik akan masuk ke jaringan interkoneksi Jawa-Madura-Bali. Artinya, manfaatnya bisa dirasakan lebih luas. "Ketika listrik tersebut sudah masuk ke jaringan interkoneksi, maka listrik tersebut tidak khusus untuk berada di sekitaran daerah tersebut. Itu juga bisa disalurkan ke semua daerah di jaringan yang tersambung dengan interkoneksi," jelasnya.
Direktur Operasi Pembangkit Gas PT PLN Indonesia Power, Daniel Eliawardhana, menambahkan bahwa persiapan teknis proyek tengah berjalan sesuai jadwal. "Secara target waktu sesuai yang disampaikan Gubernur tadi, kita akhir tahun 2027 ini sudah bisa beroperasi setara 134 megawatt peak," ujarnya.
Salah satu kekhawatiran publik terkait proyek terapung adalah dampaknya terhadap ekosistem dan aktivitas warga di sekitar waduk. Pemerintah memastikan hal tersebut telah diantisipasi dalam desain tata letak.
Area yang dipasangi panel surya direncanakan menempati kurang dari 5 persen dari total luas Waduk Gajah Mungkur yang mencapai sekitar 5.600 hektare. Penempatan modul surya juga dirancang dengan mempertimbangkan fluktuasi perubahan muka air waduk, serta tetap menyisakan jalur aman bagi aktivitas masyarakat dan nelayan setempat.
Pembangunan proyek ini juga membawa angin segar bagi perekonomian warga. Selama masa konstruksi, diperkirakan dibutuhkan sekitar 150 hingga 250 tenaga pendukung yang direkrut dari masyarakat lokal melalui kontraktor pelaksana.
Selain Gajah Mungkur, pengembangan PLTS di Jawa Tengah masih akan berlanjut. Pemerintah merencanakan proyek serupa di Waduk Kedung Ombo dengan kapasitas sekitar 100 MWac. Tidak hanya itu, proyek berkapasitas sekitar 7,4 MW juga disiapkan untuk kawasan wisata Karimunjawa. Rangkaian proyek ini merupakan bagian dari target nasional Program PLTS 100 GWp untuk memperkuat kemandirian energi nasional.