JAWA TENGAH - Kekayaan mineral Indonesia, mulai dari emas, tembaga, hingga nikel, dikelola oleh sejumlah perusahaan tambang berskala besar yang beroperasi dari Papua sampai Sulawesi. Berikut gambaran singkatnya.
PT Freeport Indonesia mengoperasikan tambang Grasberg di Mimika, Papua, salah satu tambang tembaga-emas terbesar dunia sejak 1966. Produksi 2023 tercatat 1,9 juta ons emas dan 1,6 miliar pon tembaga, dengan mayoritas saham kini dikuasai negara lewat PT Inalum (51,23%).
PT Amman Mineral Internasional Tbk mengelola tambang Batu Hijau di Sumbawa, NTB, dengan produksi 2021 mencapai 23,9 juta ons emas dan 17,54 juta pon tembaga.
PT Aneka Tambang Tbk (Antam), sebagai BUMN, menjalankan eksplorasi hingga pengolahan emas, nikel, dan bauksit — salah satunya lewat Tambang Emas Pongkor di Jawa Barat yang menghasilkan 16.690 kilogram emas pada 2021.
PT Bumi Resources Minerals Tbk beroperasi di Poboya, Palu, dengan izin hingga 2050, sementara PT Merdeka Copper Gold Tbk mengelola tambang Tujuh Bukit di Banyuwangi dengan produksi sekitar 1 juta ons emas hingga medio 2023.
PT Pama Persada Nusantara, anak usaha United Tractors, beroperasi di 17 lokasi tambang di Kalimantan, Sumatera, dan Sumbawa. PT Thiess Contractors Indonesia, bagian dari Grup CIMIC global, sudah beroperasi di Indonesia sejak 1972 dengan layanan kontraktor pertambangan lengkap.
Selain menyumbang devisa lewat ekspor mineral, perusahaan-perusahaan ini umumnya menjalankan program CSR, penyerapan tenaga kerja lokal, dan pengelolaan lingkungan sebagai bagian dari kewajiban operasional tambang.
Kapan pemerintah Indonesia mengambil alih saham Freeport?
Pengambilalihan mayoritas saham (51,23%) terjadi pada 2018 melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).
Apa keunggulan Antam dibanding perusahaan tambang swasta?
Sebagai BUMN, Antam punya jaringan tambang di berbagai provinsi dan menjalankan proses hilirisasi dari bahan mentah menjadi produk siap jual dengan nilai tambah lebih tinggi.