BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga di 5,75% pada RDG Agustus, Stabilitas Rupiah Jadi Pertimbangan Utama

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:52:31 WIB
Rupiah menguat ke kisaran Rp 17.860 per dolar AS menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Agustus 2026.

JAWA TENGAH — Tiga ekonom dari bank-bank besar Tanah Air kompak memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menahan BI-Rate di level 5,75% pada RDG Agustus 2026. Konsensus ini muncul di tengah kondisi pasar keuangan yang relatif kondusif. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah mulai mereda setelah sempat menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.

Inflasi Terkendali, Namun Belum Cukup untuk Pemangkasan

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai keputusan paling bijak bagi BI saat ini adalah mempertahankan suku bunga, dengan Deposit Facility di level 4,75% dan Lending Facility di 6,50%. Menurutnya, BI perlu memberi waktu bagi kenaikan kumulatif suku bunga sebesar 100 basis poin pada Mei-Juni untuk bekerja optimal dalam mengendalikan inflasi dan menstabilkan rupiah.

Data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga yang mereda. Inflasi Juli 2026 mencatat deflasi 0,14% secara bulanan, sementara inflasi tahunan turun ke 2,88% dari 3,34% pada bulan sebelumnya. Inflasi inti pun berada di level rendah, yaitu 2,76%.

"Inflasi saat ini masih terkendali, tetapi tekanan dari eksternal belum sepenuhnya hilang. Karena itu, kondisi tersebut lebih memberikan alasan untuk menahan, bukan memangkas suku bunga," ujar Josua kepada Katadata.co.id.

Data AS Melemah, Ruang Gerak BI Semakin Luas

Dari sisi eksternal, Josua melihat kondisi yang cukup baik untuk menghindari kenaikan suku bunga. Inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) pada Juli tercatat hanya naik 0,1% secara bulanan, dengan inflasi inti naik 0,2%. Data ini menurunkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September mendatang.

Kendati demikian, tekanan global belum sepenuhnya hilang. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun masih bertahan di kisaran 4,7% pada pertengahan Agustus, dipengaruhi oleh risiko inflasi, defisit fiskal AS, serta ketegangan geopolitik.

"Jadi, kondisi eksternal sekarang cukup baik untuk menghindari kenaikan BI-Rate, tetapi belum cukup aman untuk memulai penurunan BI-Rate," tegasnya.

Rupiah Menguat, Aliran Modal Asing Mulai Masuk

Ekonom Bank Danamon Hosiana Situmorang menyoroti pergerakan rupiah yang relatif stabil dan cenderung menguat. Nilai tukar yang sebelumnya berada di sekitar level Rp 18.000 per dolar AS kini telah bergerak ke kisaran Rp 17.860 per dolar AS. Dengan pergerakan yang lebih stabil ini, BI dinilai tidak memiliki urgensi untuk menaikkan suku bunga guna meredam tekanan terhadap nilai tukar.

Senada dengan itu, Kepala Ekonom BCA David Sumual melihat investor mulai kembali mengambil posisi risk on terhadap aset-aset negara berkembang atau emerging market. Hal ini tercermin dari penurunan yield dan penguatan rupiah, yang didorong oleh data ekonomi AS yang mulai melemah, khususnya di sektor ketenagakerjaan dan inflasi.

"Kondisi market relatif kondusif di mana investor kembali risk on ke emerging market, yield turun, rupiah menguat, setelah data ketenagakerjaan dan inflasi AS yang melemah," katanya.

Proyeksi Rupiah hingga Akhir Tahun

Josua memperkirakan rata-rata rupiah akan berada di sekitar Rp 18.276 per dolar AS pada kuartal III-2026, dengan posisi akhir kuartal sekitar Rp 18.180 per dolar AS. Ke depan, ia memproyeksikan rupiah akan menguat ke kisaran Rp 17.906 per dolar AS pada akhir tahun.

David Sumual juga menambahkan bahwa sejumlah data sektor riil Indonesia mulai menunjukkan pelemahan. Kondisi ini menjadi pertimbangan tambahan bagi BI untuk tidak menaikkan suku bunga lebih lanjut, karena berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap aktivitas ekonomi domestik.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top