JAWA TENGAH — Bagi sebagian orang, Hari Kemerdekaan dirayakan dengan upacara, perlombaan, atau memasang bendera. Namun bagi Dra. Farah Elfirajun AG, momen 17 Agustus memiliki bobot yang jauh lebih dalam. Anggota DPRD Jepara dari Komisi B ini melihat peringatan HUT RI sebagai pengingat akan harga sebuah kemerdekaan yang dibayar mahal oleh para pendahulu, sekaligus panggilan untuk bekerja dan memberi manfaat sesuai peran masing-masing.
Pernyataan itu ia sampaikan di sela-sela kesibukannya pada Selasa (18/8/26). Sebagai seorang legislator, pengusaha, dan ibu, Farah memaknai kemerdekaan bukan sebagai status yang selesai, melainkan pekerjaan rumah yang terus berlanjut. "Bagi saya, mengisi kemerdekaan hari ini adalah bekerja dan memberi manfaat sesuai dengan peran kita masing-masing," ujarnya.
Kekhawatiran utama Farah bukan lagi soal penjajahan fisik, melainkan penjajahan identitas di era digital. Ia menilai, meskipun generasi muda saat ini lebih kreatif, cepat belajar, dan berani menyampaikan pendapat, mereka justru menghadapi tantangan besar dari derasnya budaya global yang masuk lewat media sosial.
"Tugas kita adalah bagaimana memberikan mereka ruang dan arah yang positif. Di tengah derasnya media sosial dan budaya global, jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal tokoh dunia tetapi tidak mengenal pahlawan bangsanya sendiri," tegas Farah.
Menurutnya, pendidikan sejarah dan Pancasila tidak bisa lagi disampaikan dengan metode hafalan di kelas. Ia mendorong pendekatan yang lebih relevan dengan zaman, seperti melalui kreativitas, digitalisasi, kegiatan sosial, hingga seni budaya dan olahraga. "Jangan hanya meminta generasi muda mencintai bangsa Indonesia, namun kita juga harus membuat bangga menjadi bagian dari anak-anak Indonesia," tambahnya.
Jepara memiliki warisan sejarah yang kuat dari tiga tokoh perempuan: Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan RA Kartini. Farah, yang juga menjabat sebagai Ketua Gerakan Wanita Sejahtera (GWS) dan Ketua PHRI Jepara, ingin semangat kepemimpinan perempuan itu tidak berhenti menjadi cerita masa lalu.
"Sebagai perempuan Jepara, saya ingin semangat itu tidak berhenti menjadi cerita sejarah. Perempuan Jepara semakin mandiri secara ekonomi, berpendidikan, percaya diri, berani menjadi pemimpin, tetapi tetap membawa nilai keluarga, kepedulian dan budaya Jepara," jelasnya.
Dalam kapasitasnya di Komisi B DPRD Jepara, ia mendorong agar perempuan mendapat porsi lebih besar sebagai pelaku UMKM, dengan akses ke pelatihan dan keterampilan. Baginya, keberhasilan pembangunan perempuan bukan tentang mengalahkan laki-laki, melainkan berjalan bersama dan mendapat kesempatan yang setara.
Di luar perannya sebagai wakil rakyat, Farah juga merupakan pemilik Ocean Views Hotel dan Resto. Melalui bisnisnya, ia turut mengisi kemerdekaan dengan membuka lapangan kerja dan menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Ia percaya bahwa jabatan hanyalah titipan yang suatu saat akan berakhir.
"Terpenting bukan kita harus menjadi apa, tetapi apa yang bisa kita lakukan untuk Jepara. Karena jabatan ada waktunya, tetapi pengabdian kepada masyarakat tidak pernah berhenti," ucapnya.
Farah berharap Jepara bisa terus maju tanpa kehilangan jati dirinya. Anak-anak di daerahnya harus tumbuh menjadi generasi yang berpendidikan, berkarakter, dan mencintai tanah air, sehingga kelak mereka bisa membangun masa depannya di daerah sendiri. "Mari kita menjaga budaya gotong royong, toleransi, kebersamaan dan mempunyai kebanggaan terhadap sejarah Jepara," pungkasnya.