DEMAK — Keluhan para HRD perusahaan di Demak soal daya tahan mental pekerja muda kini ditindaklanjuti pemerintah kabupaten. Dinnakerind Demak memutuskan untuk mengubah pola pembinaan, tidak lagi hanya fokus pada keterampilan teknis, tetapi juga kesiapan psikologis anak-anak SMK sebelum masuk dunia industri.
Kepala Dinnakerind Kabupaten Demak, Agus Kriyanto, mengungkapkan bahwa masukan dari pihak industri menjadi pemicu utama program ini. Banyak perusahaan menilai lulusan baru mudah menyerah dan belum siap menghadapi tekanan kerja.
“Memang ada keluhan yang disampaikan oleh temen-temen HRD kepada kita, bahwa anak-anak sekarang ini dari sisi soft skill nya mereka terutama yang ketahanan mental ini perlu ada peningkatan,” ujar Agus Kriyanto, Selasa (18/8).
Dinnakerind menilai dunia pendidikan punya peran sentral dalam menyiapkan mental siswa. Karena itu, BKK di sekolah menengah kejuruan (SMK) dijadikan ujung tombak untuk menanamkan budaya kerja industri sejak dini.
“Bagaimana teman-teman yang ada di pendidikan mulai menanamkan mental untuk masuk ke dunia industri. Tentunya berbeda antara dunia pendidikan dan dunia industri,” jelasnya.
Menariknya, persoalan mental ini tidak merata. Agus menyebut justru anak-anak Demak yang bekerja di luar kabupaten memiliki ketahanan mental lebih baik dibanding mereka yang bekerja dekat rumah.
“Tetapi ada berita bagusnya, ini rata-rata anak-anak kita yang dari Kabupaten Demak yang bekerja di luar kabupaten justru mentalnya bagus. Tapi Anak-anak yang deket dengan rumah (bekerja di perusahaan dekat dengan rumah) ini perlu ada tambahan soft skill untuk mental mereka,” katanya.
Pembinaan mental ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Demak tahun 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,58 persen.
Jumlah pengangguran mencapai 32.500 orang dari total angkatan kerja sebanyak 710.020 orang. Sektor manufaktur menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi 39,27 persen, disusul sektor jasa 39,18 persen, dan pertanian 21,56 persen.
Dengan karakter industri yang dominan, kedisiplinan dan daya tahan kerja menjadi syarat mutlak. Dinnakerind berharap program penguatan mental ini bisa menekan angka PHK dan meningkatkan retensi pekerja lokal di pabrik-pabrik Demak.