Manuskrip Daun Lontar Berusia 650 Tahun dari Dusun Kedakan Magelang Tak Terbaca, BRIN Konfirmasi Cocok dengan Koleksi Perpusnas

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Minggu, 26 Juli 2026 | 19:04:32 WIB
Tim BRIN mengonfirmasi kesamaan aksara manuskrip daun lontar berusia 650 tahun dari Dusun Kedakan, Magelang, dengan koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta.

MAGELANG — Sebanyak 1.486 naskah kuno di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) ternyata bersumber dari Dusun Kedakan, lereng Gunung Merbabu. Hal itu diketahui setelah tim BRIN Jakarta mengecek langsung ke dusun tersebut pada awal Juli 2026.

"Dari BRIN ketika sampai Kedakan, itu ternyata ketika dilihat dari tulisnya kok cocok sama yang berada di Perpusnas di Jakarta. Yang di sana (Perpusnas) kan sebagian sudah terbaca dari sekian banyak naskah itu diperkirakan ada 1.486 naskah," kata Kepala Desa Kenalan, Joko Santoso, Selasa (21/7/2026).

Isi Manuskrip: Ilmu Pengetahuan Pra-Islam

Menurut Bupati Magelang Grengseng Pamuji, naskah-naskah itu diperkirakan ditulis pada era pra-Islam, sekitar abad 12 hingga 14 Masehi atau masa Majapahit. Isinya beragam, mulai dari ilmu pengobatan, astrologi, sastra, hingga pertanian. "Itu bisa menunjukkan bahwa kekayaan literasi di zaman itu di wilayah Kabupaten Magelang sangat luar biasa," ujar Grengseng.

Manuskrip ini ditulis di daun lontar dengan teknik ukir tanpa tinta. Lebar daun sekitar 4–5 cm, panjang 30 cm, setebal kertas. Keunikannya, ukiran pada kedua sisi tidak tembus. "Kiri-kaninya diukir. Istimewanya kenapa kok tidak tembus, padahal ketebalan cuma setebal kertas," jelas Joko.

Satu Naskah di Kedakan Masih Misteri

Dari total sekitar 4.113 naskah yang terselamatkan di Perpusnas, hanya satu bendel berisi 35 lembar yang masih tersisa di Dusun Kedakan. Naskah itu belum terbaca isinya hingga kini. "Mungkin membutuhkan beberapa bulan atau beberapa tahun nanti. Kemarin sudah ditindaklanjuti dari BRIN," kata Joko.

Kepala Desa menambahkan, beberapa mahasiswa dari UI, UGM, dan IPB pernah meneliti naskah tersebut, namun hasil terjemahannya berubah setiap tahun. "Ketika tahun berikutnya dibaca itu sudah berbeda-beda lagi. Ganti tahun, ganti tahun artinya sudah berbeda-beda," ujarnya.

Harapan Pemkab: Manuskrip Diterjemahkan untuk Generasi Muda

Bupati Grengseng berharap manuskrip-manuskrip ini bisa dikembalikan dalam bentuk terjemahan agar generasi muda Magelang mengetahui sejarah leluhurnya. "Dengan ditemukannya seribu lebih manuskrip di wilayah Merapi, Merbabu. Dan ini yang terbesar di Indonesia, penemuan manuskrip seperti itu," tambahnya.

Manuskrip ini konon terkait dengan Padepokan Ki Hajar Doko di Dusun Kedakan. Naskah diperkirakan berusia sekitar 650 tahun, ditulis pada tahun 1400-an. Seluruh naskah di Perpusnas disebutkan juga mencantumkan nama Ki Hajar Doko sebagai penulis.

Saat ini, satu-satunya naskah yang masih berada di Kedakan disimpan di rumah Mbah Dalang Ki Supoyo, dibungkus kain mori dalam kotak wayang jimat. Menurut Bupati, sekitar 1.400 manuskrip diangkut Belanda pada tahun 1800-an dari padepokan yang sama. "Ini baru kita telusur dari satu manuskrip yang hari ini tertinggal di Kedakan. Itu kan juga merupakan salinan ilmu pengetahuan di era itu," kata Grengseng.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top