Guru di Sekolah Rakyat Banyumas Temukan Anak-anak Miskin Tak Berani Bermimpi, Kini Berubah Drastis Setahun Kemudian

Penulis: Oki Setiawan  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 11:27:31 WIB
Anak-anak di Sekolah Rakyat Banyumas menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025/2026 dengan antusias.

BANYUMAS — Siti Isbandiyah bukan guru baru. Bertahun-tahun ia mengajar di SMA favorit seperti SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 2 Purwokerto. Namun, pengalaman memimpin SRMP 13 Banyumas pada tahun ajaran 2025/2026 justru mengubah cara pandangnya tentang makna pendidikan.

“Di Sekolah Rakyat ini harus memiliki jiwa yang tulus, sabar, dan ikhlas. Yang kami hadapi bukan hanya pembelajaran, tetapi bagaimana menyiapkan mereka berani memutus mata rantai kemiskinan,” kata Isbandiyah.

Anak-anak Datang dengan Kondisi Fisik Memprihatinkan

Pada hari-hari pertama, Isbandiyah menyaksikan anak-anak datang dengan tubuh kecil akibat dugaan kekurangan gizi. Banyak di antaranya yatim, piatu, atau diasuh kerabat setelah kehilangan orang tua. “Bertahan hidup dalam kondisi seperti itu saja sudah merupakan perjuangan besar,” ujarnya.

Namun, setahun kemudian, pemandangan itu berubah drastis. Anak-anak yang semula minder kini tampil lebih bersih, sehat, dan percaya diri. Mereka bangun pagi, beribadah, belajar dengan disiplin, hingga aktif dalam kegiatan pengembangan diri. “Kalau sekarang melihat mereka, orang tidak akan mengira mereka berasal dari keluarga desil 1 atau desil 2,” kata Isbandiyah.

Mimpi yang Terbatas: Dari Pedagang Cilok ke Restoran Mancanegara

Perubahan terbesar justru terlihat pada cara anak-anak memandang masa depan. Di sekolah reguler, Isbandiyah terbiasa mendengar siswa bercita-cita menjadi dokter atau anggota TNI. Sebaliknya, di Sekolah Rakyat, seorang siswa menjawab ingin menjadi pedagang cilok keliling.

Isbandiyah tidak mematahkan keinginan itu. Sebaliknya, ia mengajak siswa membayangkan kemungkinan yang lebih besar: memiliki restoran cilok yang terkenal hingga mancanegara. “Anak-anak dari keluarga miskin sering kali tidak pernah diperkenalkan pada kemungkinan-kemungkinan besar dalam hidup,” jelasnya.

Guru Muda Harus Mulai dari Mengenalkan Mouse dan Keyboard

Guru muda Putri Sisa Nurdin, lulusan Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2021, mengaku sempat gugup saat pertama kali mendapat penugasan di Sekolah Rakyat. Ia hanya memiliki pengalaman mengajar di bimbingan belajar.

Kegugupan itu perlahan hilang saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025/2026. Ia justru menemukan anak-anak yang antusias mengenal teman baru dan menjalani kehidupan berasrama. Pengalaman paling membekas terjadi saat praktik komputer. Sebagian besar siswa belum pernah menggunakan laptop, sehingga proses belajar harus dimulai dari pengenalan komponen perangkat, cara menggunakan tetikus (mouse), hingga mengoperasikan papan ketik (keyboard).

“Pengalaman itu sangat berharga. Saya jadi semakin termotivasi agar mereka minimal memiliki kemampuan yang setara dengan siswa di sekolah reguler,” kata Putri.

Pendampingan Menyeluruh: Kesehatan, Pengasuhan, dan Dukungan Keluarga

Perubahan yang terjadi tidak lepas dari pendampingan menyeluruh. Selain pembelajaran dan pengasuhan di asrama, siswa memperoleh layanan kesehatan dari puskesmas, pendampingan dari Sentra Satria, serta dukungan kepada keluarga sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup mereka.

“Kalau diniatkan ibadah, setiap hari kita bisa beramal jariah dengan menyiapkan masa depan mereka,” kata Isbandiyah.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: jateng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top