PEKALONGAN — Plt Bupati Pekalongan Sukirman tidak sekadar menarik mahasiswa KKN dari 30 desa. Ia memanfaatkan momen ekspose hasil pengabdian di Aula Kecamatan Karanganyar untuk mendengar langsung rekomendasi warga, terutama soal tata kelola sampah yang selama ini menjadi pekerjaan rumah daerah.
“Kami sangat membutuhkan masukan, kritik, dan saran dari civitas akademika yang disampaikan secara objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ujar Sukirman di hadapan mahasiswa dan dosen pendamping, Jumat (3/7/2026).
Dalam dialog terbuka, mahasiswa menyampaikan sejumlah rekomendasi konkret. Selain penguatan ketahanan pangan lewat pemanfaatan pekarangan dan sistem aquaponik, mereka juga menyoroti keberlanjutan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
“Edukasi pemilahan sampah sejak dari rumah menjadi kunci agar PSEL tidak sekadar proyek fisik,” kata salah satu perwakilan mahasiswa dalam paparannya.
Sukirman menegaskan, masukan objektif dari mahasiswa akan langsung dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Pekalongan Tahun 2027. Menurutnya, pengalaman mahasiswa tinggal di desa memberi gambaran nyata kondisi masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan tidak bekerja sendiri. Sukirman mengungkapkan, nota kesepahaman (MoU) dengan Menteri Lingkungan Hidup telah ditandatangani bersama Kota Pekalongan, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Pemalang. Kerja sama ini akan membangun fasilitas PSEL di Kota Pekalongan.
“Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Pemalang akan menjadi pemasok sampah sebagai bahan baku yang diolah menjadi energi listrik,” jelas Sukirman.
Ia berharap, skema regional ini bisa mewujudkan cita-cita bersama: Pekalongan, Kajen, Batang, dan Pemalang bersih dari sampah.
Rektor Universitas Pekalongan Andi Kushermanto mengatakan, tema pengelolaan sampah dipilih karena perguruan tinggi dituntut memberi dampak nyata. Selama KKN, mahasiswa mengembangkan budidaya maggot, penggunaan insinerator skala kecil, hingga pemanfaatan sampah organik untuk mendukung peternakan ikan.
“Kami berharap setelah KKN selesai, masyarakat memiliki cara pandang baru bahwa sampah memiliki nilai ekonomis dan dapat dimanfaatkan secara lebih baik,” ujar Andi.
Ia menambahkan, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari selesainya program kerja, tapi dari perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sehari-hari.
Sukirman menilai, tema pengelolaan sampah yang diusung sangat relevan dengan kondisi saat ini. Persoalan sampah, kata dia, menjadi tantangan bersama yang membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk perguruan tinggi.
“Universitas Pekalongan selalu menunjukkan perhatian terhadap perkembangan Kabupaten Pekalongan melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat,” pungkas Sukirman.