SEMARANG — Pengakuan dari pemerintah pusat itu diberikan langsung oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) dalam sebuah forum evaluasi kinerja daerah beberapa waktu lalu. Semarang dinilai unggul dalam tiga aspek utama: reformasi birokrasi, penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta kemudahan berusaha yang berdampak pada peningkatan investasi.
Predikat "Transformer" bukan sekadar label. Ini adalah hasil evaluasi terhadap perubahan fundamental yang dilakukan Pemkot Semarang di berbagai lini. Salah satu yang paling menonjol adalah keberhasilan meningkatkan kemandirian fiskal daerah tanpa harus bergantung penuh pada dana transfer pusat.
Selain itu, transformasi tata kelola pemerintahan juga mencakup digitalisasi layanan administrasi kependudukan dan perizinan. Proses yang dulu berbelit-belit kini bisa diselesaikan dalam hitungan jam melalui aplikasi terpadu.
Bagi warga Semarang, dampak dari predikat ini sudah mulai terasa. Izin mendirikan bangunan (IMB) hingga izin usaha mikro kecil (IUMK) kini bisa diurus secara online tanpa harus datang ke kantor kelurahan atau kecamatan. Hal ini memangkas biaya dan waktu yang sebelumnya menjadi keluhan utama pelaku UMKM.
Di sisi lain, iklim investasi yang kondusif berhasil menarik sejumlah investor baru ke kota ini. Beberapa proyek properti dan pusat perbelanjaan mulai dibangun kembali setelah sempat lesu akibat pandemi. Hal ini membuka lapangan kerja bagi ribuan warga lokal.
Wali Kota Agustina sebelumnya menekankan bahwa transformasi tidak bisa terjadi tanpa perubahan pola pikir aparatur sipil negara (ASN). "Kami memulai dari dalam, memperbaiki sistem pengawasan dan memberikan insentif bagi ASN yang berprestasi," ujarnya dalam sebuah kesempatan di Balai Kota Semarang.
Pendekatan ini dinilai efektif oleh banyak pengamat kebijakan publik. Semarang kini menjadi salah satu kota rujukan bagi daerah lain yang ingin melakukan reformasi serupa.
Dengan modal predikat "Transformer", Pemkot Semarang kini menargetkan pengembangan lebih lanjut menuju konsep smart city yang berkelanjutan. Fokus utama berikutnya adalah integrasi data antar-dinas untuk mempercepat pengambilan keputusan dan respons terhadap bencana.
Program-program seperti Semarang Smart City dan pengembangan kawasan industri terpadu di pinggiran kota menjadi prioritas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 mendatang. Pemerintah optimistis predikat ini akan memacu semangat seluruh jajaran untuk terus berinovasi.