Harga Sayur dan Bahan Pangan di Pekalongan Merosot Tajam, Pedagang Pemasok Program MBG Paling Terpukul

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Rabu, 01 Juli 2026 | 12:04:02 WIB
Harga sayur di Pasar Wiradesa Pekalongan turun drastis hingga lebih dari 50 persen.

PEKALONGAN — Harga sejumlah sayuran di Pekalongan turun hingga lebih dari setengahnya dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan ini tidak hanya memukul pedagang di pasar tradisional, tetapi juga para petani dan pengrajin tahu tempe yang menggantungkan pasokan pada program pemerintah.

Harga Buncis dan Pokcoy Anjlok Lebih dari 50 Persen

Ustadzah, seorang pedagang di Pasar Wiradesa yang juga menjadi pemasok sayur untuk dapur MBG, mengungkapkan harga buncis yang biasanya mencapai Rp12 ribu per kilogram kini hanya Rp5 ribu. Hal serupa terjadi pada pokcoy yang turun dari Rp11 ribu menjadi Rp5 ribu per kilogram.

“Kalau untuk MBG, produk yang sering masuk itu pokcoy, buncis, jipang sama wortel. Nah, sayur-sayur itu yang sekarang harganya turun drastis karena berkaitan dengan MBG,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).

Komoditas lain seperti jipang (labu siam) juga merosot dari Rp8 ribu menjadi Rp4 ribu hingga Rp5 ribu per kilogram. Sementara wortel turun lebih landai, dari Rp14 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram.

Libur Program MBG Memutus Rantai Pasok

Ustadzah menjelaskan, selama program MBG berjalan, harga sayur cenderung lebih mahal dan permintaan tinggi. Namun, saat program libur, harga murah justru membuat pembeli enggan membeli dalam jumlah banyak.

“Kalau MBG jalan harga sayur memang lebih mahal, tapi anehnya banyak yang cari. Sekarang harga murah seperti ini malah yang beli sedikit,” tuturnya.

Ia menambahkan, tidak semua komoditas yang turun berkaitan dengan MBG. Harga cabai misalnya, ikut turun karena memang sedang musim sepi pembeli dan jarang digunakan dalam menu MBG.

Petani dan Pengrajin Tahu Tempe Ikut Terdampak

Mawar, pemasok bahan pangan ke dapur MBG di Kabupaten Pekalongan, mengaku prihatin karena banyak petani yang hasil panennya terbengkalai. Ia menyebut komoditas seperti selada, pokcoy, dan brokoli mengalami gagal panen akibat tidak terserap pasar.

“Hasil panen petani juga banyak yang terbengkalai karena tidak terserap dengan baik oleh pasar. Stok yang terlalu banyak akhirnya membuat harga jadi turun,” katanya.

Tak hanya petani, pelaku usaha tahu dan tempe juga merugi. Mawar mengatakan mereka sudah menimbun bahan baku kedelai melalui Koperasi Tempe Indonesia (Kopti) namun uang setoran mengendap karena permintaan lesu.

“Banyak juga pengrajin tahu tempe yang rugi karena sudah menimbun bahan baku dengan mengambil kedelai di koperasi, sementara uang untuk setorannya mengendap,” ungkapnya.

Harga Telur Ikut Terpuruk, Konsumen Diuntungkan

Penurunan harga tidak hanya terjadi pada sayuran. Harga telur ayam di tingkat pedagang turun dari Rp27 ribu menjadi Rp23 ribu per kilogram. Di tingkat konsumen, warga Kecamatan Kajen, Fatehatul Umah, mengaku harga telur setengah kilogram kini hanya Rp12 ribu.

“Iya, sekarang harga telur lagi murah banget. Setengah kilo cuma Rp12 ribu,” katanya.

Meski konsumen diuntungkan, para pedagang dan petani harus menanggung kerugian. Mawar mengaku terpaksa memutarkan modal usahanya ke kegiatan lain selama program MBG libur agar perputaran uang tetap berjalan. Ia berharap program MBG segera kembali beroperasi agar harga kembali stabil dan petani tidak terus merugi.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: lingkarjateng.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top