SALATIGA — Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan saat ini ada 743 pasien TBC yang masih menjalani pengobatan di wilayah Kota Salatiga. Angka inilah yang menjadi dasar Kemenkes memilih Salatiga sebagai salah satu lokasi prioritas program skrining massal.
“Ada 743 pasien TB yang diobati di Kota Salatiga. Mulai bulan Juli akan dilakukan Cek Kesehatan Gratis hingga rontgen paru di tempat. Seluruh pembiayaannya ditanggung Kementerian Kesehatan,” ujar Benjamin dalam kegiatan penyerahan sertifikat sembuh kepada 9 penyintas TBC di Gedung Paru Sehat RS Paru dr. Ario Wirawan Salatiga, Senin (29/7).
Program bertajuk Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini tidak hanya memeriksa pasien yang sudah terdaftar. Petugas kesehatan akan mendatangi langsung rumah pasien dan seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah. Targetnya 1.000 rumah akan dikunjungi dalam gelombang pertama.
Pemeriksaan meliputi skrining awal hingga rontgen paru di tempat. Seluruh biaya operasional ditanggung penuh oleh Kemenkes. Benjamin menekankan bahwa skrining ini penting untuk menemukan kasus TBC laten, yaitu kondisi seseorang yang sudah terinfeksi bakteri TBC tetapi belum menunjukkan gejala sama sekali.
Wali Kota Salatiga Robby Hernawan menyatakan dukungan penuh terhadap program ini. Ia mengingatkan bahwa eliminasi TBC tidak cukup hanya dengan mengobati pasien yang sudah sakit. Penemuan kasus secara aktif di tengah masyarakat menjadi kunci utama.
“Deteksi dini merupakan langkah yang sangat penting dalam eliminasi TBC. Mari berkolaborasi dengan puskesmas, kader kesehatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, PKK, dan seluruh elemen masyarakat agar penularan TBC dapat dicegah sedini mungkin,” kata Robby.
Program skrining di Salatiga merupakan bagian dari strategi nasional mempercepat target Indonesia Bebas TBC 2030. Kemenkes menilai deteksi kasus laten menjadi tantangan terbesar karena penderitanya tidak menyadari telah terinfeksi dan berpotensi menularkan ke orang lain tanpa diketahui.
Dengan skrining door-to-door yang menjangkau 1.000 rumah, pemerintah berharap rantai penularan bisa dipotong lebih awal. Salatiga dipilih sebagai salah satu kota percontohan karena angka kasus aktif yang masih tinggi dan dukungan penuh dari pemerintah kota.