JAWA TENGAH — Indofarma kini memasuki tahun 2026 dengan optimisme yang lebih tinggi. Direktur Utama PT Indofarma (Persero) Tbk Sahat Sihombing menyatakan, fondasi efisiensi yang sudah dibangun dalam dua tahun terakhir menjadi modal utama untuk mengejar pertumbuhan.
“Kami optimistis, karena fondasi perseroan sudah melakukan program efisiensi yang fundamental. Secara bisnis kami sudah siap untuk lari, karena secara operasional Indofarma sudah sangat efisien,” ujar Sahat dalam Paparan Publik di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Salah satu langkah paling drastis adalah perampingan organisasi. Jumlah karyawan yang pada 2024 mencapai sekitar 525 orang kini menyusut drastis menjadi di bawah 100 orang. Sahat menegaskan, jumlah tersebut cukup untuk menjalankan perusahaan secara efisien.
“Kami juga melakukan rebalancing portofolio, kami memilih produk yang dibutuhkan Kementerian Kesehatan,” katanya. Strategi ini membuat Indofarma tidak lagi memproduksi secara massal, melainkan fokus pada produk-produk yang memiliki permintaan pasti dari pemerintah.
Hasilnya mulai terlihat. Sepanjang 2025, beban umum dan administrasi Indofarma turun 55,2 persen. Defisiensi modal pun membaik dari Rp1,144 triliun menjadi Rp707 miliar, seiring turunnya liabilitas jangka pendek sebesar 58 persen. Laporan keuangan tahun buku 2025 bahkan memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari auditor.
Indofarma tidak hanya berhenti pada efisiensi. Perseroan mulai mendorong pengembangan obat berbahan alam (herbal) sebagai sumber pendapatan baru ke depan. Inisiatif ini digarap bersama Danantara dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Perseroan juga mendorong penggunaan obat bahan alam, dulu herbal istilahnya. Ini kami berkoordinasi terus dengan Danantara dan juga ITB. Dalam waktu dekat kami akan detailkan untuk memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia,” ujar Sahat.
Ia menambahkan, beberapa produk bernilai tambah tinggi yang tengah diteliti memiliki potensi ekspor yang besar, terutama ke pasar Amerika Serikat. “Kemarin kami diundang Danantara terkait pengembangan beberapa produk. Itu produk yang high value kalau diekspor, tapi masih tahap penelitian dengan ITB. Market cukup tinggi di AS. Ini potensi revenue INAF di masa mendatang,” kata Sahat.
Sepanjang 2025, Indofarma mencatat pertumbuhan penjualan ekspor sebesar 11,9 persen. Efisiensi biaya mencapai 55,7 persen. Perseroan juga memperoleh 29 sertifikasi nasional dan internasional yang mendukung pengembangan portofolio produk.
Memasuki 2026, Indofarma akan melanjutkan transformasi melalui implementasi lean manufacturing, penyeimbangan kembali portofolio produk, dan optimalisasi fasilitas produksi—khususnya untuk lini produk steril dan obat bahan alam. Dalam RUPST Tahun Buku 2025, pemegang saham menyetujui laporan tahunan dan memberikan pelunasan tanggung jawab kepada direksi dan dewan komisaris tanpa perubahan susunan pengurus.
Dengan kerugian yang terus menyusut dan fondasi operasional yang ramping, Indofarma kini berada di jalur yang lebih realistis untuk bangkit—meski masih panjang jalan menuju profitabilitas penuh.