WONOGIRI — Secara visual, MinyaKita dalam kemasan rapat tidak mengeluarkan bau menyengat. Namun setelah kemasan dibuka dan minyak digunakan untuk memasak, barulah muncul aroma yang menyerupai minyak tanah atau solar. Warnanya pun cenderung lebih keruh dibanding minyak goreng pada umumnya.
Warga di beberapa titik di Wonogiri dan Klaten mengaku baru menyadari keanehan tersebut setelah minyak digunakan untuk menggoreng. Bau yang muncul bukan tengik, melainkan mirip bau minyak tanah yang biasa digunakan untuk kompor sumbu.
Hasil gorengan yang seharusnya berwarna kuning keemasan justru berubah menjadi hitam pekat. Hal ini membuat sejumlah ibu rumah tangga mengeluhkan kualitas produk yang beredar di pasaran.
MinyaKita selama ini dikenal sebagai minyak goreng dengan harga terjangkau yang digadang-gadang membantu daya beli masyarakat. Namun temuan di lapangan menunjukkan bahwa produk yang beredar di Wonogiri dan Klaten tak layak konsumsi.
Seorang warga menyebut bahwa meskipun harganya murah, hasil gorengan yang hitam dan berbau membuatnya enggan menggunakan MinyaKita untuk memasak lagi. Belum ada pernyataan resmi dari pihak distributor atau produsen terkait temuan ini.
Bau minyak tanah yang muncul saat MinyaKita dipanaskan memicu dugaan bahwa produk tersebut telah dicampur dengan bahan lain yang tak seharusnya. Minyak tanah atau solar memiliki titik didih yang berbeda dengan minyak goreng sawit murni.
Jika dugaan ini benar, maka konsumen tidak hanya dirugikan secara kualitas masakan, tetapi juga berpotensi terkena dampak kesehatan jangka panjang. Belum ada laporan resmi dari Dinas Kesehatan setempat mengenai hal ini.
Para pembeli berharap pemerintah kabupaten di Wonogiri dan Klaten segera turun tangan. Pengawasan peredaran MinyaKita dinilai perlu diperketat agar kejadian serupa tak meluas ke daerah lain.
Mereka meminta agar sampel minyak yang mencurigakan segera diuji di laboratorium dan hasilnya diumumkan ke publik. Langkah ini dinilai penting untuk melindungi konsumen dari produk yang tak layak edar.