Kehadiran dua raja secara bersamaan dalam satu prosesi wilujengan menjadi catatan tersendiri bagi sejarah Keraton Kasunanan Surakarta. Biasanya, ritual tahunan ini dipimpin oleh satu raja. Namun, tahun ini kedua sosok yang menyandang gelar SISKS PB XIV tersebut sama-sama mengikuti rangkaian Kirab Pusaka.
Prosesi wilujengan merupakan tradisi turun-temurun untuk menyambut bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Rangkaian acara meliputi doa bersama dan kirab pusaka yang diyakini membawa berkah bagi masyarakat.
Sepanjang prosesi, situasi di sekitar Keraton Kasunanan Surakarta dilaporkan aman dan terkendali. Masyarakat yang turut menyaksikan kirab juga tertib mengikuti jalannya acara dari pagar pembatas yang telah disediakan.
Pihak keraton memastikan bahwa seluruh rangkaian acara berjalan sesuai dengan adat dan protokol yang berlaku. Tidak ada insiden berarti selama wilujengan berlangsung.
Bagi warga Surakarta dan sekitarnya, tradisi wilujengan Malam 1 Suro bukan sekadar ritual keraton. Acara ini menjadi simbol spiritual dan identitas budaya yang terus dijaga lintas generasi. Kehadiran dua raja sekaligus dinilai memperkuat semangat persatuan di lingkungan keraton.
Prosesi Kirab Pusaka sendiri diikuti oleh abdi dalem yang membawa berbagai pusaka keraton. Mereka berjalan dari dalam kompleks keraton menuju titik-titik tertentu yang telah ditentukan, dikawal ketat oleh pasukan pengamanan internal.
Perbedaan paling mencolok dari tahun-tahun sebelumnya adalah partisipasi penuh dua raja dalam satu forum yang sama. Hal ini jarang terjadi dalam sejarah modern Keraton Kasunanan Surakarta. Masyarakat pun menyambut positif momen ini sebagai tanda kerukunan internal keluarga keraton.
Dengan berlangsungnya acara secara lancar, tradisi wilujengan Malam 1 Suro kembali menegaskan posisi Keraton Kasunanan Surakarta sebagai pusat pelestarian budaya Jawa yang tetap hidup di tengah modernitas kota Solo.