SALATIGA — Seorang dosen di Kota Salatiga baru-baru ini meluncurkan sebuah buku kurikulum PAUD yang mengusung konsep ruang musikal phygital. Gagasan ini lahir sebagai respons terhadap fenomena "generasi menunduk" yang kerap menjadi kekhawatiran para pendidik dan orang tua.
Konsep phygital yang ditawarkan dalam buku ini memadukan elemen fisik dan digital dalam satu ruang belajar. Alih-alih menjauhkan anak dari gawai, pendekatan ini justru memanfaatkan perangkat digital sebagai alat stimulasi yang terintegrasi dengan aktivitas fisik dan musik.
Menurut sang dosen, metode ini mampu mengubah tantangan digital menjadi peluang. Anak-anak diajak untuk bergerak, bernyanyi, dan berinteraksi secara langsung, namun tetap diperkenalkan dengan teknologi secara terarah dan terukur.
Buku kurikulum ini disebut-sebut sebagai jawaban atas kebutuhan para pendidik yang selama ini kesulitan menyeimbangkan antara pengenalan teknologi dan aktivitas fisik pada anak usia dini. Dengan panduan yang tertuang dalam buku tersebut, guru PAUD diharapkan dapat merancang kegiatan belajar yang lebih variatif.
Pendekatan ini memastikan anak tidak hanya menjadi konsumen pasif konten digital, melainkan pengguna aktif yang tetap menggerakkan tubuhnya. Hal ini dinilai krusial mengingat semakin tingginya paparan gawai pada anak-anak sejak usia dini.
Kehadiran buku ini juga diharapkan dapat menjadi referensi bagi orang tua di rumah. Dengan memahami konsep phygital, orang tua bisa meniru pola stimulasi serupa di lingkungan rumah tangga.
Langkah ini menjadi salah satu upaya konkret dari kalangan akademisi di Salatiga untuk merespons tantangan pendidikan di tengah arus digitalisasi yang kian deras. Kedepannya, kurikulum ini rencananya akan diujicobakan di beberapa PAUD di wilayah tersebut.