JAWA TENGAH — Diskusi "Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience" yang digelar Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia dalam rangka Indonesia Critical Minerals Conference 2026 menjadi panggung bagi para pemangku kepentingan untuk membahas dampak hilirisasi nikel di Maluku Utara. Acara ini merupakan rangkaian dari North Maluku Sustainability Trip yang berlangsung di Indonesia Weda-bay Industrial Park (IWIP) pada 1-2 Juni lalu.
Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, Ovan Tito, memaparkan hasil kunjungan langsung ke IWIP. "Banyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi mengenai industri nikel Indonesia. Namun setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya," ujar Ovan.
Data yang dipaparkan dalam diskusi menunjukkan nilai ekspor produk turunan nikel Indonesia melonjak dari US$3,3 miliar pada 2018 menjadi sekitar US$34 miliar pada 2024. Artinya, nilai tambah yang tercipta di dalam negeri meningkat hampir sepuluh kali lipat dalam enam tahun.
Maluku Utara kini menyumbang 13-15% terhadap pasokan nikel dunia. Komoditas berbasis besi baja, nikel, dan bahan kimia anorganik mendominasi 96,65% dari total ekspor daerah. Posisi ini menjadikan Maluku Utara sebagai simpul strategis dalam rantai pasok mineral kritis global.
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum otomatis dirasakan oleh masyarakat lingkar tambang. "Karena itu kami sedang memperkuat pendidikan dan keterampilan masyarakat agar lebih banyak warga Maluku Utara dapat mengambil peran yang lebih besar dalam industri. Kami juga sedang mendorong pengembangan pendidikan vokasi dan politeknik yang relevan dengan kebutuhan sektor industri," kata Sherly.
Hingga 2030, Sherly menargetkan bukan hanya kawasan industri yang lebih besar, tetapi juga akses yang lebih baik terhadap pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat lokal.
Executive Director NiPERA, Chris Schlekat, menilai pasar global akan semakin ketat dalam menuntut bukti praktik berkelanjutan. "Ke depan, akses pasar global akan semakin ditentukan oleh kemampuan produsen untuk menunjukkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat diverifikasi. Penting bagi industri untuk mengacu pada standar yang kredibel, relevan, dan berbasis sains," tutur Chris.
Senada dengan itu, Co-head of Responsible Sourcing Glencore, Ilse Schoeters, menyoroti kecepatan luar biasa industri nikel Indonesia. "Dalam waktu kurang dari satu dekade, kawasan industri dan rantai nilai yang kompleks telah tumbuh dengan sangat cepat. Kami melihat ada perusahaan yang sudah menunjukkan kemajuan dalam mengintegrasikan ESG ke dalam operasionalnya," ujarnya.
Sementara itu, Community Outreach Coordinator IRMA, Andre Barahamin, menekankan pentingnya transparansi dan audit independen. "Transparansi bukan tentang membuka ruang untuk saling menyalahkan, tetapi memberikan fondasi yang sama bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memahami kemajuan yang telah dicapai dan perbaikan yang masih perlu dilakukan," terang Andre.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang melesat dan tuntutan global yang semakin tinggi, Maluku Utara kini berada di persimpangan antara ambisi industri dan kebutuhan akan keberlanjutan yang terukur.