WONOGIRI — Pelatihan ini menyasar pilot paralayang yang kerap terbang di kawasan perbukitan Wonogiri, salah satu destinasi olahraga udara di Jawa Tengah. Instruktur menekankan bahwa keputusan membuka parasut cadangan bukanlah respons pertama, melainkan opsi paling akhir setelah seluruh upaya pemulihan parasut utama gagal.
Dalam pelatihan, para pilot diajarkan membaca situasi berdasarkan ketinggian. Jika parasut utama tidak kunjung pulih saat ketinggian masih mencukupi, pilot masih punya waktu untuk melakukan teknik pemulihan. Namun, ketika ketinggian terus berkurang dan parasut utama tetap tidak berfungsi, saat itulah parasut cadangan wajib diaktifkan.
“Ini soal manajemen risiko di udara. Jangan sampai pilot panik dan langsung menarik parasut cadangan padahal parasut utama masih bisa diselamatkan,” ujar salah satu instruktur dalam sesi pelatihan.
Parasut cadangan dirancang sebagai sistem penyelamat, bukan pengganti utama. Membukanya di ketinggian yang terlalu rendah atau saat parasut utama masih mungkin dipulihkan justru bisa menimbulkan risiko baru, seperti belitan tali atau kegagalan kanopi.
Pelatihan ini juga menyimulasikan kondisi angin silang dan turbulensi yang kerap terjadi di langit Wonogiri. Pilot dilatih tetap tenang, membaca arah angin, dan melakukan koreksi posisi tubuh sebelum memutuskan langkah darurat.
Setelah pelatihan dasar ini, para pilot direncanakan mengikuti uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat keselamatan terbang. Pemerintah daerah setempat mendukung penuh program ini sebagai bagian dari pengelolaan destinasi wisata paralayang yang aman dan profesional.
“Kami tidak ingin insiden di udara terjadi hanya karena kurangnya pelatihan. Wonogiri punya potensi besar di olahraga ini, dan keselamatan adalah prioritas,” tambah instruktur.