JAWA TENGAH — Kebijakan penurunan harga avtur ini berlaku di seluruh bandara yang dikelola Pertamina Patra Niaga. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga menyebutkan, penyesuaian harga ini merupakan bagian dari upaya perusahaan mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dan angkutan udara di Indonesia.
Avtur merupakan komponen biaya terbesar bagi maskapai penerbangan, mencapai 30-40 persen dari total biaya operasional. Dengan penurunan 10 persen, beban maskapai diperkirakan berkurang signifikan. Pertamina Patra Niaga berharap, efisiensi ini bisa diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga tiket yang lebih murah, sehingga meningkatkan minat masyarakat untuk bepergian menggunakan pesawat.
Kebijakan ini mulai efektif pada awal Juni 2026. Pertamina Patra Niaga memastikan, harga avtur yang baru sudah dihitung berdasarkan formula yang transparan dan mengacu pada harga pasar internasional, namun tetap mempertimbangkan daya beli maskapai nasional.
Penurunan harga avtur dinilai strategis, terutama menjelang musim liburan. Konektivitas udara yang lebih murah diharapkan mendorong pergerakan wisatawan ke berbagai destinasi di Indonesia. Hal ini sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara.
Pertamina Patra Niaga mencatat, penurunan harga avtur ini adalah yang pertama dalam beberapa bulan terakhir. Perusahaan berkomitmen untuk terus mengevaluasi harga bahan bakar penerbangan secara berkala, agar tetap kompetitif dan mendukung iklim bisnis penerbangan yang sehat.
Kebijakan ini disambut positif oleh sejumlah maskapai. Mereka menilai, langkah Pertamina Patra Niaga memberikan ruang napas di tengah tekanan biaya operasional yang tinggi. Jika realisasi penurunan harga tiket terjadi, maka masyarakat dan industri pariwisata akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.