BOYOLALI — Tim arkeolog Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah menemukan lima struktur stupa candi di kawasan Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut pada masa lampau merupakan permukiman padat yang menjadi basis komunitas pendukung kebudayaan Buddha pada abad ke-8 Masehi.
Penemuan berawal dari laporan warga yang mendapati struktur batu kuno terkikis aliran sungai di sekitar desa. Tim BPK Jateng yang turun ke lokasi kemudian melakukan ekskavasi awal dan mendapati lima stupa dalam kondisi sebagian terkubur. Stupa-stupa itu tersusun dari batu andesit dengan ukiran relief yang mulai aus termakan usia.
Kepala BPK Jateng menyebut temuan ini bukan sekadar situs keagamaan. "Kami menduga Desa Nepen adalah permukiman terencana dengan tata ruang yang mendukung aktivitas keagamaan Buddha," ujarnya dalam keterangan pers, pekan lalu.
Tim arkeolog tidak hanya menemukan stupa. Di sekitar lokasi, mereka juga menjumpai pecahan gerabah, struktur fondasi bangunan dari batu kali, serta sisa-sisa perapian kuno. Artefak-artefak itu tersebar di area seluas sekitar satu hektare di bantaran sungai.
Berdasarkan stratigrafi tanah dan perbandingan gaya arsitektur stupa, tim menyimpulkan bahwa kawasan ini dihuni secara intensif antara abad ke-8 hingga ke-10 Masehi. Periode itu bertepatan dengan masa kejayaan kerajaan-kerajaan Buddha di Jawa Tengah, seperti Dinasti Syailendra.
"Stupa tidak berdiri sendiri. Biasanya ada vihara, tempat tinggal biksu, dan rumah-rumah warga di sekitarnya. Pola itulah yang kami lihat di Nepen," kata arkeolog yang memimpin tim.
BPK Jateng berencana melakukan ekskavasi lanjutan pada musim kemarau mendatang. Targetnya, memperluas area penggalian untuk menemukan struktur bangunan lain yang masih terkubur. Tim juga akan melakukan pemetaan geospasial untuk mengetahui batas-batas kawasan permukiman kuno.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Boyolali diminta menyiapkan langkah perlindungan situs. Pasalnya, lokasi temuan berada di area persawahan aktif yang rawan terdampak aktivitas pertanian dan erosi sungai.
Bagi warga sekitar, temuan ini menjadi kebanggaan tersendiri. "Kami baru tahu kalau desa kami ternyata punya sejarah panjang," ujar seorang tokoh masyarakat setempat.