JAKARTA — Tekanan terhadap rupiah kembali terasa di awal perdagangan hari ini. Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menyebut pelemahan ini dipicu oleh kabar penyerangan terbaru Amerika Serikat ke Iran. Berita tersebut memperumit prospek perdamaian di Timur Tengah dan mendorong investor global beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Mata uang di kawasan Asia juga terpantau kompak melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia turun 0,24 persen, dolar Singapura turun 0,16 persen, dan peso Filipina turun 0,18 persen. Yuan China dan yen Jepang masing-masing melemah 0,05 persen dan 0,04 persen.
Satu-satunya pengecualian di Asia adalah dolar Hong Kong yang justru naik tipis 0,03 persen. Sementara itu, mata uang utama negara maju juga tak luput dari tekanan. Euro Eropa melemah 0,13 persen dan poundsterling Inggris turun 0,19 persen terhadap greenback.
Lukman menjelaskan bahwa setiap eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah selalu berdampak langsung pada sentimen pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor cenderung menghindari risiko dengan melepas aset berdenominasi rupiah dan beralih ke dolar AS.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat menyusul berita penyerangan terbaru AS ke Iran, memperumit prospek harapan pada perdamaian di Timur Tengah,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang hari ini. Level Rp17.900 menjadi batas psikologis yang harus diwaspadai. Jika tembus, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan kabar dari Timur Tengah serta data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis dalam waktu dekat, karena kedua faktor ini akan menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya.