JAWA TENGAH — Dari total 6.000 pendaftar yang mengikuti proses seleksi, hanya 400 orang yang lolos menjadi peserta program pendidikan selama sembilan bulan. Angka ini menggambarkan tingkat persaingan yang tinggi—rasio penerimaan hanya sekitar 6,7 persen—menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaring talenta terbaik di lingkungan perusahaan pelat merah.
Zhirazzi Dimas Prasetyo, peserta dari PT Bank Negara Indonesia (BNI), mengaku bangga bisa masuk dalam kelompok tersebut. "Ya, saya merasa bangga menjadi salah satu peserta dari 400 total yang ada," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (25/5).
Pendidikan P3MD dibagi ke dalam tiga fase utama. Tiga bulan pertama difokuskan pada pembentukan karakter dan kedisiplinan. Fase ini menjadi fondasi yang ditekankan langsung oleh Presiden dalam taklimat di Hambalang.
"Pesan Presiden Prabowo mengenai pentingnya mental ideologi menjadi yang paling membekas," ungkap Zhirazzi, menirukan arahan yang diterima para peserta.
Tahap kedua berlangsung selama empat bulan di Danantara Corporate University. Peserta dibekali keterampilan manajerial dan strategi pengambilan keputusan. Dua bulan terakhir diisi program magang di kementerian, lembaga pemerintah, serta perusahaan BUMN.
Melalui program ini, pemerintah ingin menyiapkan generasi baru pemimpin BUMN yang mampu menghadapi tantangan global. Targetnya bukan sekadar kapasitas intelektual, tetapi juga komitmen pengabdian kepada bangsa dan negara.
Erlin Shofiana dari PT Pupuk Indonesia menaruh harapan besar pada kelanjutan program ini. "Kita harap (program ini) terus dikawal sampai dengan output yang diharapkan oleh Bapak Presiden," tuturnya.
Senada dengan Erlin, Aizna Syachkalita dari PT Pupuk Kalimantan Timur melihat P3MD sebagai investasi jangka panjang. Ia optimistis program ini mempersiapkan kemandirian bangsa melalui pembangunan SDM unggul di sektor BUMN.
P3MD merupakan wadah pembinaan yang diinisiasi langsung oleh Prabowo bersama Danantara. Berbeda dari program pelatihan internal BUMN pada umumnya, kurikulum P3MD menekankan penggabungan antara kemampuan profesional dan pembentukan karakter kepemimpinan yang kuat.
Keterlibatan Danantara—badan pengelola investasi yang mengawasi aset-aset negara—menunjukkan bahwa program ini tidak hanya bertujuan mencetak direktur yang cakap secara teknis, tetapi juga pemimpin yang mampu mengelola aset bernilai triliunan rupiah dengan integritas tinggi.
Dengan durasi pendidikan sembilan bulan dan kombinasi pelatihan, kelas manajerial, serta magang, pemerintah berharap kader-kader ini siap memimpin transformasi perusahaan negara dan memperkuat daya saing Indonesia di masa depan.