WONOGIRI — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan rancangan kurikulum perkoperasian untuk jenjang SD, SMP, dan SMA sudah disampaikan ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah, Eddy Sulistiyo Bramianto, menargetkan program ini bisa berjalan pada tahun ajaran baru 2026/2027 dan akan diluncurkan awal Juni 2026.
“Besok saya bertemu Kepala Badan Kebijakan Kemendikdasmen, sehingga kami bekerja secara berkelanjutan,” ujar Bramianto dalam keterangan resmi, Kamis (21/5/2026).
Kurikulum ini disusun secara bertingkat sesuai jenjang pendidikan. Pada tingkat SD, siswa akan diperkenalkan dasar-dasar koperasi. Untuk SMP, materi mencakup struktur organisasi, tugas, dan fungsi koperasi. Sementara SMA diarahkan pada penguatan kewirausahaan berbasis koperasi.
Menurut pemerintah, tujuan besarnya bukan sekadar mengenalkan lembaga koperasi. “Anak-anak kita bisa mengenal sistem ekonomi kerakyatan, bergotong royong, bekerja sama, dan ending-nya kesejahteraan bersama,” jelas Bramianto.
Di luar antusiasme terhadap program ini, diskusi publik mulai bergeser pada kebutuhan yang lebih mendesak bagi generasi muda. Banyak pihak menilai siswa saat ini menghadapi tekanan ekonomi keluarga, perkembangan kecerdasan buatan, persaingan kerja global, hingga ancaman pinjaman online dan keamanan siber.
Istilah “kurikulum bertahan hidup” pun mengemuka. Beberapa materi yang dinilai relevan antara lain literasi keuangan pribadi, keterampilan kerja dan usaha, manajemen stres, serta kecakapan digital. Di wilayah rawan bencana seperti Jawa Tengah, kesiapsiagaan bencana dan kemampuan survival dasar juga dianggap penting.
Konsep koperasi sebenarnya bisa tetap relevan jika tidak berhenti pada teori organisasi. Tantangan terbesar justru ada pada implementasi. Apakah siswa hanya akan menghafal definisi koperasi, atau benar-benar diajak membangun usaha mini, mengelola keuangan bersama, belajar pemasaran digital, hingga praktik ekonomi nyata?
Pendekatan modern dapat menjadikan koperasi sebagai pintu masuk pembelajaran bertahan hidup ekonomi. Misalnya, siswa belajar membuat produk, menghitung modal, mengelola kas, menjual secara digital, hingga memahami kerja tim.
Kini bola panas ada pada implementasi. Publik tidak hanya menunggu mata pelajaran baru, tetapi memastikan sekolah benar-benar menyiapkan generasi yang siap hidup, siap bekerja, dan siap beradaptasi dengan masa depan.