JAWA TENGAH — Level ini memecahkan rekor terburuk sebelumnya. Rupiah dibuka melemah 13 poin di posisi 17.681, lalu terus merosot hingga menyentuh 17.724 per dolar AS. Sepanjang tahun berjalan, depresiasi rupiah sudah mencapai 6,25%.
Tekanan tidak hanya dialami Indonesia. Mayoritas mata uang Asia kompak tertekan oleh dolar AS. Won Korea Selatan memimpin pelemahan dengan koreksi 0,74%, disusul baht Thailand (0,18%), dolar Singapura (0,09%), dan yen Jepang (0,08%). Rupee India dan yuan China juga ikut melemah meski tipis.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai, sebenarnya ada kabar positif dari geopolitik global. Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran, yang meredakan kekhawatiran pasar. Namun, sentimen itu belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah.
"Pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah," ujar Lukman kepada media.
Ia memproyeksikan rupiah berpotensi menguat tipis, namun sangat terbatas. Rentang pergerakan hari ini diperkirakan berada di 17.600 hingga 17.700 per dolar AS.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Pelaku pasar berekspektasi bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan untuk menahan laju pelemahan rupiah di tengah derasnya tekanan eksternal.
Ekspektasi kenaikan BI rate ini justru membuat investor cenderung wait and see. "Pelaku pasar berhati-hati dalam mengambil posisi," kata Lukman.
Keputusan BI menjadi kunci. Jika suku bunga naik, rupiah bisa mendapatkan angin segar. Namun jika tidak sesuai ekspektasi, tekanan terhadap nilai tukar berpotensi berlanjut.
Bagi importir, pelemahan rupiah ini menjadi pukulan telak. Biaya bahan baku impor membengkak, margin usaha tergerus. Perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS juga harus siap-siap menanggung beban bunga lebih besar.
Sebaliknya, eksportir justru diuntungkan. Penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih bernilai ketika dikonversi ke rupiah. Sektor komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, dan nikel berpotensi menikmati kenaikan pendapatan.
Bagi investor pasar modal, pelemahan rupiah kerap menjadi sentimen negatif. Investor asing cenderung menarik dananya dari pasar saham dan obligasi untuk menghindari risiko nilai tukar. IHSG pun berpotensi tertekan dalam jangka pendek.
Investasi mengandung risiko. Kondisi ini menguji kesabaran investor dan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia ke depan.