JAWA TENGAH — Hujan meteor Orionid mencapai puncaknya pada 21-22 Oktober dan bisa disaksikan dari Indonesia tanpa teleskop. Fenomena tahunan ini berlangsung sejak 2 Oktober hingga 7 November, dengan 10-20 meteor melesat tiap jam dalam kondisi langit gelap. Pengamat di belahan Bumi selatan punya posisi menguntungkan karena rasi Orion muncul di langit barat laut.
Partikel yang terbakar di atmosfer itu berasal dari puing es dan debu Komet Halley, komet paling terkenal dalam sejarah pengamatan langit. Lintasan Komet Halley kini tidak lagi cukup dekat ke Bumi untuk memicu hujan meteor, tapi jalur puing yang ditinggalkannya ratusan tahun lalu masih dilewati Bumi setiap Oktober.
Saat Bumi melintasi sabuk puing tersebut, partikel-partikel kecil memanas dan terbakar begitu memasuki atmosfer. Hasilnya adalah meteor terang yang melesat cepat melintasi langit malam.
Kecepatan Meteor Orionid
Meteor Orionid termasuk yang tercepat di antara hujan meteor lain. Penyebabnya, Bumi nyaris bertabrakan langsung dengan aliran partikel sisa Komet Halley.
Data NASA mencatat meteor Orionid melesat sekitar 66 kilometer per detik. Angka itu hanya 5 kilometer per detik lebih lambat dari hujan meteor Leonid yang dikenal paling cepat.
Alasan Namanya Orionid
Nama hujan meteor diambil dari rasi bintang yang menjadi titik radian atau arah kemunculannya. Dari sudut pandang Bumi, Orionid tampak memancar dari rasi Orion yang berada di sekitar ekuator langit.
Posisi itu membuat Orionid bisa diamati dari belahan Bumi utara maupun selatan, asalkan cuaca mendukung. Pengamat di belahan utara melihat Orion di langit barat daya, sementara di belahan selatan rasi ini muncul di langit barat laut.
Waktu Terbaik Menyaksikan
Bulan dalam fase cembung membesar tahun ini menyamarkan sebagian meteor redup. NASA merekomendasikan waktu sebelum subuh sebagai kesempatan terbaik, ketika titik radian berada cukup tinggi di langit.
Untuk mengetahui jam terbit Matahari dan Bulan di lokasi masing-masing, pengamat bisa memakai kalkulator waktu terbit dan terbenam Matahari.
Cara Mengamati agar Tidak Melewatkan Meteor
Jangan hanya menatap lurus ke arah Orion. Meteor bisa muncul di berbagai bagian langit, jadi arahkan pandangan ke rasi bintang lain di sekitarnya.
Meteor yang muncul dekat titik radian punya jejak cahaya lebih pendek sehingga sulit terlihat. Jika mata terkunci pada Orion saja, pengamat berisiko melewatkan beberapa meteor.
Langkah praktisnya:
- Cari lokasi dengan polusi cahaya minim.
- Duduk atau berbaring dengan posisi nyaman, lalu pandang langit seluas mungkin.
- Beri waktu sekitar 30 menit agar mata beradaptasi dengan kegelapan.
- Tidak perlu teleskop atau teropong.
Hujan meteor Orionid masih berlangsung sampai 7 November. Setelah puncak 21-22 Oktober, jumlah meteor yang terlihat akan menurun bertahap hingga periode ini berakhir.