UNGARAN — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat sinergi antara sektor transportasi dan pariwisata. Salah satu langkah konkretnya adalah memberikan fasilitas masuk gratis ke Dusun Semilir bagi seluruh pengguna Transjateng. Promo ini berlaku bagi siapa saja yang menunjukkan tiket bus Transjateng, baik tiket penumpang umum seharga Rp 5.000 maupun tiket khusus Rp 1.000, kepada petugas loket.
Halte Tematik Berbentuk Stupa untuk Perkuat Ikon Wisata
Untuk memperkuat nuansa pariwisata, Halte Transjateng di kawasan Dusun Semilir dibangun dengan desain tematik. Bangunannya mengadopsi bentuk stupa, yang identik dengan ikon pariwisata Jawa Tengah, Candi Borobudur. Desain ini sengaja dipilih agar halte tidak hanya berfungsi sebagai tempat naik-turun penumpang, tetapi juga sebagai daya tarik visual yang selaras dengan lingkungan sekitar.
“Stupa ini mungkin identik dengan ikon pariwisata Jawa Tengah yakni Candi Borobudur, Semilir juga bangunan stupa, sehingga halte ini juga dibangun stupa,” demikian penjelasan dari pihak terkait dalam keterangan yang diterima, Senin.
Jumlah Penumpang Transjateng Tembus Satu Juta Hingga Juni 2026
Langkah ini diambil seiring dengan tingginya antusiasme masyarakat terhadap layanan Transjateng. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, jumlah penumpang bus untuk koridor Semarang-Bawen tercatat mencapai satu juta orang. Angka ini menunjukkan bahwa transportasi umum massal mulai menjadi pilihan utama warga untuk mobilitas sehari-hari.
Dengan adanya kolaborasi ini, diharapkan dampak ekonomi berganda bisa dirasakan oleh pelaku usaha lokal di sekitar kawasan wisata. Pemerintah juga mendorong agar sinergi serupa bisa diterapkan di destinasi lain di Jawa Tengah, termasuk untuk kegiatan study tour sekolah yang sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Faktor Keamanan dan Aksesibilitas Jadi Prioritas Utama Halte
Meski desain halte bisa disesuaikan dengan tema wisata, pemerintah menegaskan bahwa aspek keamanan dan fungsi tetap menjadi prioritas utama. Halte harus memenuhi standar ketinggian tertentu, serta menyediakan akses bagi penyandang disabilitas. Beberapa halte dirancang dengan tangga, sementara lainnya tanpa tangga untuk memudahkan pengguna kursi roda.
Tidak ada aturan khusus yang membatasi bentuk halte tematik. Namun, standar teknis seperti ketinggian platform—baik high deck maupun low deck—tetap harus dipatuhi. Rencananya, tahun depan pemerintah akan mulai melakukan peremajaan armada bus, sehingga desain halte perlu disesuaikan dengan tipe kendaraan terbaru.