JAWA TENGAH — Qualcomm tidak hanya ingin menjadi pemasok chip untuk ponsel. Dalam pengumuman hari Selasa (15/4), perusahaan asal San Diego itu memperkenalkan dua produk anyar yang secara langsung menargetkan perangkat wearable bertenaga AI: Snapdragon Reality Elite untuk kacamata mixed-reality, dan START (Scalable Turnkey AI-Ready Toolkit) yang merupakan paket modul hardware dan software untuk mempercepat produksi perangkat AI, dimulai dari kacamata pintar.
Snapdragon Reality Elite: Chip Kacamata AR/VR dengan AI Lokal yang Lebih Cepat
Platform Snapdragon Reality Elite dirancang untuk menjalankan AI on-device yang lebih berat. Menurut Qualcomm, dibandingkan platform XR generasi sebelumnya, terjadi peningkatan performa hingga 60 persen di GPU, 30 persen di CPU, dan 160 persen di NPU (Neural Processing Unit).
Sebagai tolok ukur konkret, chip ini mampu menjalankan model bahasa (language model) dengan 3 miliar parameter pada kecepatan 45 token per detik. Angka ini cukup untuk interaksi AI yang responsif secara real-time. Platform ini juga mendukung resolusi 4.4K per mata pada 90 fps, sedikit lebih tinggi dari pendahulunya (XR2+ Gen 2) yang 4.3K per mata. Semakin tinggi resolusi dan frame rate, semakin halus visual yang dihasilkan, yang krusial untuk mengurangi rasa pusing saat menggunakan headset dalam waktu lama.
Qualcomm membagi perangkat yang didukung menjadi dua jenis: headset VST (video-see-through) mandiri yang menampilkan konten digital di atas rekaman kamera dunia nyata, dan kacamata OST (optical-see-through) ringan yang menampilkan gambar digital langsung di bidang pandang pengguna. Perangkat pertama yang akan menggunakannya adalah XREAL Project Aura yang sudah diperkenalkan di Google I/O awal tahun ini, serta perangkat dari Play for Dream.
START: Toolkit untuk Bikin Kacamata AI Tanpa Mulai dari Nol
Berbeda dengan Reality Elite yang fokus pada performa tinggi, START adalah solusi "turnkey" yang terdiri dari chip AR, platform software, aplikasi pendamping, dan program white-label. Tujuannya jelas: menurunkan hambatan bagi produsen hardware yang ingin masuk ke pasar perangkat AI wearable.
Melalui program white-label, Qualcomm menawarkan tiga desain referensi siap pakai: konfigurasi audio + kamera (mirip Ray-Ban Smart Glasses buatan Meta), monocular display, dan binocular display. Produsen kacamata seperti Inspecs dan O'Neill (milik TitanFlex) menjadi mitra pertama program ini. Qualcomm berencana memperluas START ke bentuk perangkat lain di masa depan, tidak terbatas pada kacamata pintar.
Strategi Besar: Menggeser Ponsel sebagai Pusat Komputasi
Pernyataan Cristiano Amon kepada CNBC menjadi konteks strategis di balik kedua pengumuman ini. Ia melihat bahwa perusahaan teknologi akan semakin membutuhkan data dunia nyata dari pengguna untuk menggerakkan agen AI mereka. Hal ini akan memicu lahirnya gelombang baru startup hardware dengan bentuk perangkat yang tidak biasa.
“Saya pikir akan ada banyak eksperimen dengan berbagai bentuk perangkat,” ujar Amon. “Saat ini, kami memiliki lebih dari 40 desain perangkat semacam itu, dan jenis bentuknya sangat, sangat beragam.” Ia menambahkan, “Prinsipnya adalah sesuatu yang Anda kenakan, sesuatu yang selalu bersama Anda, sesuatu yang bisa melihat dunia di sekitar Anda, sehingga Anda memiliki konteks dan kemampuan untuk mengakses agen serta berbicara dengannya.”
Dengan kata lain, Qualcomm secara eksplisit memposisikan dirinya sebagai lapisan silikon fundamental untuk perangkat apa pun yang akan menggantikan ponsel pintar. Program white-label START, khususnya, dirancang untuk membuka pintu bagi pendatang baru yang tidak memiliki kapasitas riset dan pengembangan chip sendiri. Bagi raksasa seperti Apple dan Samsung, langkah ini bisa berarti tekanan kompetitif baru di luar pasar ponsel yang sudah mapan.