JAWA TENGAH — BYD membuka pemesanan awal Atto 1 generasi terbaru di China dengan tanda jadi 2.000 yuan atau sekitar Rp 5,3 juta, sebelum harga resminya diumumkan. Model yang di pasar domestik bernama Seagull ini kini lebih besar dan bertenaga 127 hp, dengan klaim jarak tempuh hingga 420 km versi CLTC. Calon pembeli di Indonesia sebaiknya menunggu konfirmasi harga dan spesifikasi final sebelum menghitung peluang masuknya ke pasar lokal.
Pemesanan awal BYD Atto 1 terbaru dibuka lewat aplikasi resmi BYD di China. Tanda jadi 2.000 yuan atau sekitar Rp 5,3 juta itu berfungsi mengonfirmasi minat konsumen, bukan mengunci pesanan. Uangnya bisa dikembalikan sebelum pesanan dikunci, dan pilihan konfigurasi masih dapat diubah setelah peluncuran resmi.
Harga jual belum diumumkan. Estimasi media China menyebut banderol di bawah 100.000 yuan atau sekitar Rp 260 jutaan, naik dari model sebelumnya yang dipasarkan dengan harga tertinggi 85.900 yuan atau Rp 220 jutaan.
Perubahan paling terasa ada di ukuran bodi. Panjang Atto 1 terbaru bertambah 425 mm menjadi 4.205 mm, dengan lebar 1.810 mm, tinggi 1.570 mm, dan jarak sumbu roda 2.650 mm. Tambahan panjang sebesar itu bukan angka kecil di kelas mobil listrik mungil.
Konfigurasi tetap lima penumpang. Bagasi mengklaim kapasitas 1.380 liter saat kursi belakang dilipat, plus ruang penyimpanan 94 liter di bawah kap mesin. Dua angka ini jadi nilai jual tersendiri bagi pengguna yang butuh mobil kecil tapi sering membawa barang.
Motor listriknya bertenaga 95 kW atau setara 127 hp dan menggerakkan roda belakang. BYD menyediakan dua opsi baterai, 30 kWh dan 39,2 kWh. Jarak tempuhnya diklaim 320-420 km berdasarkan pengujian CLTC, atau sekitar 262-344 km jika dikonversi ke standar WLTP yang lebih ketat.
Selisih antara angka CLTC dan WLTP itu penting dicatat. Klaim 420 km versi CLTC kemungkinan besar tidak akan sama dengan pemakaian harian di jalan Indonesia, terutama dengan AC menyala dan lalu lintas padat.
Atto 1 terbaru diperkirakan mengadopsi teknologi pengisian cepat yang memungkinkan baterai terisi dari 10 ke 97 persen hanya dalam sembilan menit. Klaim itu masih perlu konfirmasi lebih lanjut, termasuk daya pengisian dan ketersediaan infrastruktur yang mendukung di luar China.
Fitur lain yang disebut adalah opsi LiDAR di atap, terintegrasi dengan sistem bantuan pengemudi DiPilot 300 atau God's Eye B. Kehadiran LiDAR di segmen ini menarik, tapi belum jelas apakah fitur tersebut tersedia di semua varian atau hanya tipe tertinggi.
Sebagai gambaran, Atto 1 saat ini sudah dijual di Indonesia dengan harga yang jauh lebih tinggi dari banderol China karena faktor impor, pajak, dan posisi pasar. Jika generasi terbaru masuk, harganya kemungkinan tidak akan sedekat estimasi Rp 260 jutaan yang beredar di media China.
Bagi yang tertarik, langkah paling masuk akal adalah menunggu peluncuran resmi dan pengumuman harga. Tanda jadi murah bukan indikator harga akhir, terutama untuk mobil listrik yang biaya baterainya masih jadi komponen terbesar.