Karang Taruna Desa Manggihan Getasan Olah Limbah Sapi Jadi Biogas, Tembus 5 Besar Nasional

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Senin, 05 Oktober 2026 | 09:31:32 WIB
Karang Taruna Desa Manggihan mengolah limbah sapi dan sampah sayuran menjadi biogas di kawasan hulu Danau Rawa Pening.

UNGARAN — Kotoran sapi yang bertahun-tahun jadi persoalan warga Desa Manggihan kini berbalik menjadi komoditas. Karang Taruna Dharma Remaja mengolah limbah peternakan dan sisa pertanian menjadi biogas, pupuk organik, bokasi, kascing, hingga instalasi pemanen air hujan.

Gagasan itu berangkat dari posisi Desa Manggihan yang berada di kawasan hulu sungai menuju Danau Rawa Pening. Mayoritas warga menggantungkan hidup dari pertanian dan peternakan, sehingga produksi kotoran sapi menumpuk setiap hari.

Jika dibiarkan, limbah peternakan maupun sisa sayuran berpotensi mencemari lingkungan sekitar. Karang Taruna kemudian menggandeng Kelompok Usaha Bersama (KUB) Wira Tani Produktif untuk mengelola persoalan tersebut.

Biogas dari Sampah Sayuran, Gasnya Ditampung Pakai Ban Truk

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah biogas berbahan limbah sayuran. Prosesnya tergolong sederhana dan bisa dikerjakan di tingkat desa.

Sampah sayuran dicampur air dengan perbandingan tertentu, lalu dimasukkan ke dalam drum berkapasitas 200 liter. Gas yang terbentuk ditampung menggunakan ban dalam truk sebelum dialirkan ke kompor.

"Campurannya satu kilogram sampah sayuran dicampur satu liter air. Untuk tahap awal dibutuhkan waktu satu bulan agar menghasilkan gas metan, tapi selanjutnya bisa secara alamiah berproses," jelas Ketua Karang Taruna Dharma Remaja, Juari.

Sisa dari proses produksi biogas tidak dibuang. Bahan tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair untuk tanaman.

Kotoran Sapi Dihargai Rp 250.000 per Pikap

Dampak ekonomi dari inovasi ini menjadi perhatian tim penilai Karang Taruna Berprestasi 2026. Direktur Pemberdayaan Sosial Masyarakat Kementerian Sosial RI, Andrianus Alla, menyebut penilaian tidak hanya melihat kreativitas program, tetapi juga besarnya manfaat bagi masyarakat.

Menurut Andrianus, kotoran sapi dari peternak kini dapat dihargai sekitar Rp 250.000 untuk satu mobil pikap. Angka itu menunjukkan limbah yang sebelumnya tidak bernilai berubah menjadi sumber pendapatan.

"Salah satu dampaknya adalah meningkatnya produktivitas, kotoran sapi dari peternak dapat dihargai sekitar Rp 250.000 untuk satu mobil pikap," ujar Andrianus.

Meredam Konflik Sosial Akibat Limbah Peternakan

Pengolahan limbah juga dinilai membantu meredam potensi konflik sosial yang sebelumnya muncul akibat persoalan kotoran ternak. Selama ini, limbah peternakan kerap menjadi sumber perselisihan antarwarga.

"Pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk organik mampu mengurangi potensi konflik sosial yang sebelumnya muncul akibat limbah peternakan," katanya.

Bagi anggota Karang Taruna, usaha yang dirintis sejak 2018 itu mulai memberikan penghasilan. Juari menyebut kegiatan tersebut kini membuka sumber pendapatan bagi pemuda desa yang terlibat.

"Saat ini usaha yang dirintis telah bisa memberikan income untuk anggota," ungkap Juari.

Kemensos Dampingi Pengurusan Izin Edar Pupuk

Kementerian Sosial akan mendorong keberlanjutan inovasi tersebut. Salah satu yang disiapkan adalah pendampingan pengurusan izin edar produk pupuk organik agar dapat dipasarkan lebih luas.

"Tantangan kami bagaimana supaya ini bisa dijual lebih luas. Kami membutuhkan izin edar. Ini yang akan kami coba lakukan pendampingan kepada Karang Taruna Manggihan," ujar Andrianus.

Dari Desa Manggihan, gagasan sederhana itu kini dibawa ke panggung nasional. Bukan sekadar mengejar predikat Karang Taruna berprestasi, tetapi menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang ketika dikelola bersama oleh anak-anak muda desa.

"Kami sangat mendorong dan sangat mengapresiasi terkait dengan hal ini dan kami akan terus melakukan pendampingan untuk memastikan bahwa inovasi ini tetap berlanjut dan bisa direplikasi ke daerah lain," pungkasnya.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: jatengpos.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top