TEGAL — Tiga aliran air yang selama ini menjadi tumpuan penampungan air di Kota Tegal—Sungai Ketiwon, Sungai Kemiri, dan Sungai Kaligangsa—mengalami pendangkalan parah. Kapasitas tampung ketiganya menyusut tajam akibat penumpukan sedimen yang dibiarkan berlarut-larut.
Kerusakan struktur tanggul di sejumlah titik memperbesar potensi bahaya. Jika hujan deras mengguyur dalam durasi lama, luapan air dipastikan membanjiri pemukiman warga, terutama kawasan bantaran.
Sedimentasi yang tidak tertangani membuat daya tampung sungai jauh berkurang dari kapasitas normal. Kondisi itu diperparah tanggul yang rapuh di beberapa lokasi.
Warga yang tinggal di sekitar bantaran menjadi kelompok paling rentan. Kerugian material berulang setiap tahun jika penanganan tidak segera dilakukan.
Peringatan tegas disampaikan Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar) DPRD Kota Tegal dalam Rapat Paripurna Penetapan Raperda Perubahan APBD 2026 Menjadi Perda. Forum itu digelar di Gedung Parlemen, Jalan Pemuda.
Juru Bicara Fraksi Partai Golkar DPRD Kota Tegal, Enny Yuningsih, menegaskan Pemkot Tegal harus menjadikan antisipasi bencana sebagai prioritas utama. Penanganan tidak boleh ditunda mengingat risiko kerugian besar yang mengintai masyarakat.
"Kami menyarankan agar Pemkot serius berkoordinasi dengan Balai PSDA Pemali Comal untuk pengerukan sungai dan perbaikan tanggul," ujar Enny Yuningsih, legislator dari Daerah Pemilihan Margadana tersebut.
Pelaksanaan APBD Perubahan 2026 menyisakan waktu kurang dari tiga bulan. Situasi itu menuntut Pemkot Tegal bergerak cepat sebelum puncak musim hujan tiba.
Fraksi Golkar menilai koordinasi interinstansi menjadi kunci percepatan perbaikan. Wewenang pengelolaan sungai besar berada di tingkat provinsi, sehingga kolaborasi dengan pengelola wilayah sungai tidak bisa ditawar.
Tanpa koordinasi dan langkah penanganan bersama, pemukiman di sekitar bantaran akan terus menjadi langganan banjir tahunan. Kerugian material warga pun bakal kembali berulang.
Pemkot Tegal didesak aktif menjalin komunikasi dengan Balai PSDA Pemali Comal. Pengerukan sungai dan perbaikan tanggul disebut sebagai harga mati untuk mencegah dampak buruk luapan air saat intensitas hujan meningkat.