KEBUMEN — Peresmian SIGMA ditandai dengan penyematan kartu identitas bertuliskan nama ekstrakurikuler tersebut oleh Kepala MAN 2 Kebumen, Drs. H. Akhmad Taukhid, M.Pd., kepada pembina jurnalistik madrasah, Fatkhul Anas, M.Pd.
Kegiatan yang mengusung tema “Mencetak Jurnalis Muda Cerdas, Cakap Bicara, Kreatif, Beretika, dan Adaptif di Era AI” ini akan berlangsung hingga 3 September 2026. Materi pelatihan mencakup teknik menulis berita, fotografi, videografi, hingga pengelolaan media sekolah.
Akhmad Taukhid menjelaskan, SIGMA menjadi ruang bagi siswa untuk mengasah kreativitas dan kemampuan komunikasi. Ia menyebut madrasah tidak ingin siswanya hanya pandai mengoperasikan gawai, tetapi juga mampu menilai kebenaran informasi.
“Melalui SIGMA, kami ingin memberikan wadah kepada siswa agar bisa mengembangkan kreativitas, kemampuan berkomunikasi, sekaligus belajar menyampaikan informasi dengan baik dan bertanggung jawab,” ujarnya.
“Di era digital dan AI seperti sekarang, siswa tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi. Mereka juga harus mampu menjadi produsen informasi yang cerdas, kreatif, beretika, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” imbuh Akhmad Taukhid.
Pada hari pertama, peserta memperoleh materi dari Pemimpin Redaksi Kebumen24.com M. Tohri bersama jurnalis Ilham Faturrahman. Siswa diajak memahami alur kerja jurnalistik secara utuh, mulai dari menentukan ide liputan, riset data, wawancara, menyusun naskah, menyunting, sampai mendistribusikan berita ke berbagai platform.
Mereka juga diperkenalkan pada formula dasar 5W+1H, yaitu what, who, when, where, why, dan how, yang menjadi pondasi dalam menggali fakta.
Tohri menegaskan bahwa aktivitas jurnalistik tidak berhenti pada merangkai kata. “Jurnalistik itu bukan sekadar bagaimana kita bisa menulis berita. Ada tanggung jawab di dalamnya, karena informasi yang kita sampaikan akan dibaca, dipercaya, dan bisa memengaruhi masyarakat,” tuturnya.
Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, kemampuan memverifikasi data menjadi semakin penting. Tohri mengingatkan para siswa untuk selalu memeriksa sumber sebelum membagikan sesuatu.
“Di tengah banjir informasi seperti sekarang, kemampuan paling penting bukan hanya cepat mendapatkan informasi, tetapi juga memastikan informasi itu benar. Cek sumber, verifikasi data, dan jangan sampai kita ikut menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya,” katanya.
Materi kemudian berlanjut pada literasi digital dan etika bermedia sosial. Peserta dikenalkan pula dengan ragam risiko dunia digital, mulai dari hoaks, penipuan daring, perundungan siber, judi online, hingga kebocoran data pribadi.
Tohri mengingatkan bahwa media sosial meninggalkan jejak digital yang bisa memengaruhi masa depan penggunanya. Ia memperkenalkan prinsip THINK, singkatan dari true, helpful, inspiring, necessary, dan kind, sebagai panduan sebelum memposting konten.
“Pintar menggunakan teknologi belum tentu berarti bijak menggunakannya. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri, kalau sebuah postingan dapat memengaruhi masa depan, baik saat kuliah, bekerja maupun membangun relasi, apakah kita masih mau asal memposting?” ujarnya.
Dengan terbentuknya SIGMA, madrasah menaruh harapan pada lahirnya jurnalis muda yang tidak hanya cakap menulis, tetapi mampu berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam memproduksi konten di ruang digital.