Ingin Anak Tumbuh Optimal? Jangan Salah Pilih Olahraga Sesuai Tumbuh Kembang

Penulis: Oki Setiawan  •  Rabu, 02 September 2026 | 19:53:31 WIB
Anak-anak mengikuti kegiatan olahraga permainan bola di sebuah lapangan di Jawa Tengah, sebagai bagian dari aktivitas fisik yang sesuai dengan tumbuh kembang mereka.

JAWA TENGAH — Memilih olahraga untuk anak kerap menjadi dilema. Banyak orang tua menargetkan tinggi badan sebagai tolok ukur utama. Padahal, aktivitas fisik yang terbaik adalah yang sesuai tumbuh kembang, bukan yang dianggap paling efektif menambah tinggi.

Fokus pada Kesehatan, Bukan Tinggi Badan

Anggapan bahwa olahraga tertentu seperti basket atau renang secara ajaib menambah tinggi badan perlu diluruskan. Tidak ada satu jenis olahraga pun yang terbukti konsisten membuat anak lebih tinggi secara signifikan.

Meski demikian, esensi aktivitas fisik pada masa pertumbuhan tidak bisa diabaikan. Gerakan rutin memperkuat kepadatan tulang, meningkatkan kebugaran kardiovaskular, dan mengasah kemampuan motorik kasar maupun halus. Manfaat ini secara langsung berkontribusi pada kesehatan fisik dan mental anak secara menyeluruh.

Alih-alih memaksa anak pada satu cabang olahraga, orang tua disarankan memilah aktivitas berdasarkan usia, minat, serta kondisi kesehatan anak. Pilihan yang tepat akan membangun fondasi gaya hidup aktif yang lebih berkelanjutan.

Pendekatan Bertahap ala Dokter Spesialis

dr. Surya Santosa, SpKO, dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS), menegaskan bahwa pengenalan aktivitas fisik harus bertahap. "Yang terpenting bukan memilih satu olahraga tertentu untuk mengejar tinggi badan, tetapi memastikan anak aktif secara rutin, menikmati aktivitasnya, dan mendapatkan variasi gerak yang sesuai dengan usianya," jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (2/9/2026).

Untuk usia dini, dr. Surya merekomendasikan aktivitas lewat permainan yang menyenangkan. Fokus utamanya pada elemen gerak dasar seperti berlari, melompat, melempar, serta latihan keseimbangan dan koordinasi tubuh. Pendekatan ini membuat anak tidak merasa sedang digurui atau dipaksa berlatih.

Seiring bertambahnya usia dan kemampuan motorik, barulah anak bisa diperkenalkan pada struktur olahraga yang lebih formal. Orang tua bisa mulai mengarahkan pada cabang olahraga yang diminati, namun tetap dengan pengawasan pada aspek keselamatan dan kesenangan.

Patuhi Anjuran WHO

Merujuk rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), anak dan remaja usia 5-17 tahun memiliki kebutuhan spesifik akan durasi aktivitas fisik. Panduan ini dirancang untuk memastikan pembentukan tulang dan otot yang optimal di masa pertumbuhan.

Orang tua perlu memastikan anak mendapatkan porsi gerak yang cukup setiap harinya. Namun, yang lebih penting adalah menghindari tekanan berlebih agar olahraga tidak menjadi beban psikologis. Anak yang senang bergerak akan jauh lebih mungkin menjalani pola hidup sehat hingga dewasa.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: health.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top