DEMAK — Suasana Pasar Ngabei di RT 03 RW 04 Desa Jogoloyo berbeda dari pasar pada umumnya. Pengunjung yang hendak membeli nasi jagung, getuk, atau jamu tradisional tidak langsung membayar dengan uang rupiah. Mereka terlebih dahulu menukarkan uangnya dengan koin khusus berbahan kertas koran yang digulung, dipotong, lalu dilapisi plitur agar tahan lama.
Koin dengan tiga nominal itu—Rp2.000, Rp5.000, dan Rp10.000—menjadi alat tukar resmi di pasar yang mengusung slogan "Belanja Asik, Tanpa Sampah Plastik" tersebut. Cara ini sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin bernostalgia dengan suasana jajan tempo dulu.
Komitmen mengurangi sampah plastik tidak berhenti pada sistem koin. Para penjual di Pasar Ngabei menggunakan daun pisang sebagai wadah makanan dan suruh sebagai sendok. Pengunjung yang membawa wadah sendiri dari rumah juga dipersilakan.
Langkah ini dinilai sejalan dengan semangat awal berdirinya Pasar Ngabei yang tumbuh dari gerakan Bank Sampah di Desa Jogoloyo. Konsep pasar semacam ini menjadi contoh bagaimana tradisi dan kepedulian lingkungan bisa berjalan beriringan di tingkat akar rumput.
Beragam kuliner tradisional tersedia di Pasar Ngabei, mulai dari nasi jagung, nasi kuning, lontong sayur, nasi pecel, getuk, kolak, hingga jamu tradisional. Harga yang ditawarkan pun cukup terjangkau, berkisar antara Rp1.000 hingga Rp10.000.
Keterlibatan mahasiswa KKN UIN Walisongo Posko 108 dalam acara ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan potensi lokal Desa Jogoloyo kepada khalayak yang lebih luas. Mereka menilai Pasar Ngabei bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang pemberdayaan yang menghidupkan ekonomi warga sekaligus menjaga warisan kuliner dan lingkungan.