JAWA TENGAH — Harga emas spot ditutup di posisi USD4.001,18 per troy ons, melemah 2,90 persen. Sebelumnya, dalam sepekan terakhir harga sempat menyentuh level tertinggi historis di atas USD4.200, namun momentum bullish langsung buyar setelah pengumuman Gedung Putih.
Langkah Trump memblokade jalur laut Iran memicu kenaikan harga minyak mentah global lebih dari 5 persen dalam satu sesi. Kenaikan harga energi secara langsung mendorong ekspektasi inflasi AS naik, yang berarti Federal Reserve kemungkinan besar tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
"Harga minyak melonjak akibat konflik di Timur Tengah, sementara ada potensi pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas," ujar Analis Pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, dikutip Reuters.
Pasar kini kembali memperhitungkan skenario suku bunga AS bertahan di level 5,50-5,75 persen hingga akhir tahun. Padahal, sebelumnya pelaku pasar sempat optimistis The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada September 2026. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik membuat narasi tersebut runtuh.
Emas dikenal sebagai aset safe haven, tetapi dalam kondisi suku bunga tinggi, daya tariknya melemah karena investor beralih ke aset berbunga seperti obligasi. Dolar AS yang ikut menguat pasca-pengumuman Trump juga menambah tekanan pada emas yang dihargai dalam dolar.
Razaqzada memperkirakan, jika harga minyak terus menguat, harga emas berpotensi turun hingga level USD3.800 per troy ons dalam waktu dekat. Tekanan jual yang lebih besar bahkan bisa mendorong harga menuju USD3.500.
Level support terdekat saat ini berada di USD3.980. Jika tembus, para trader memperkirakan aksi jual akan semakin masif. Sebaliknya, jika ketegangan Timur Tengah mereda secara tiba-tiba, emas bisa kembali menguji resistance di USD4.100.
Investasi mengandung risiko.